Madinah

.......................

Mekah

.....................

Bertaubatlah

Ajal tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kitalah yang menunggu ajal dengan bertaubat.

ADAB MENUNTUT ILMU

Akan aku jelajahi semua negeri untuk mencari ilmu, atau aku akan mati sebagai orang asing, jika diriku harus mati. Aku tidak menyesal karena ALLAH pasti merahmati aku, Tetapi jika selamat, Aku akan segera kembali.

Kamis, 30 Juni 2011

Etika




ETIKA FILSAFAT KEPEMIMPINAN
PELAYANAN PUBLIK DAN PEMBANGUNAN

1.      Pada dasarnya manusia itu (termasuk mahasiswa) setiap saat selalu dihadapkan pada masalah, dan untuk memecahkan masalahnya manusia menggabungkan dirinya pada organisasi atau kelompok, yang akhirnya terangkatlah seorang pemimpin (Leader) baik formal maupun non formal, tidak sedikit yang gagal dan juga banyak yang berhasil dalam memberikan pelayanan pada anggota atau masyarakat, namun secara umum  kurang atau tidak efektif atau sebut kurang kontributif pada pembangunan, mengapa ini terjadi? Jangan-jangan salah kepemimpinannya, atau dalam pengambilan keputusan, terjadinya pembedaan Gender, HAM dalam Pembangunan, padahal manusia itu idealnya adalah mampu menjaga fitrah-Nya, yaitu diberikan pada kita oleh Tuhan berupa Akal (IQ), Emosi (EQ) dan Spiritual (SQ) yang harus dipimpin secara harmonis, efektif dan efisien (professional) agar dapat maksimal sehingga membentuk masyarakat madani.

2.      Mahasiswa sebagai calon Leader yang diharapkan dimasa yang akan datang adalah sebagai agen perubahan dan pembangunan / agent of change and development, memiliki tanggung jawab cukup berat, karena harus mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk yang disebut atau dalam  Etika Kepemimpinan dan Pelayanan Publik untuk membangun bangsa ini, hingga akhirnya  dia (calon leader tadi) menjadi Bijaksana, yaitu baik untuk dirinya sendiri, baik untuk orang lain atau organisasi / masyarakat luas,  yang oleh kita disebut Filsafat, lalu apa tujuannya?, Filsafat paling tidak menjawab pertanyaan, Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?), Bagaimana aku mengetahuinya? (How do I know it ?), Apakah aku yakin ? (Am I sure ?), Apakah aku benar ? (Am I right?)

3.      Secara akademis baik Leader maupun Follower (bawahan/anggota) dalam Pelayanan Publik dan Pembangunan  mengedepankan orientasi work/task (pekerjaan) dan human (manusia), sehingga memunculkan gaya, tipe atau teknik serta style kepemimpinan yang beraneka ragam, ada yang otoriter, ada yang demokratis dan ada yang liberal, bahkan berdemensi relatif heterogen diantaranya kharismatik, administratif, visioner, integratif, pelari dan lain-lain. Masing-masing punya kebaikan dan keburukan atau kelebihan dan kekurangan, namun kita tetap harus dapat memilah dan memilih mana yang efektif ?  Dalam kepemimpinan (leadership)  Etika Publik menjawab pertanyaan “apakah saya harus melangkah dengan cara itu?” Moral menjawab pertanyaan “bagaimana saya harus melangkah?”

4.      Filsafat adalah berpikir dengan cara yang benar (teoritis) untuk menemukan keputusan pengetahuan atau kebijakan yang benar (praktis), Manfaat Filsafat bagi mahasiswa atau manusia pada umumnya dengan membiasakan diri utuk bersikap kritis, logis-rasional, opini dan argumentatif, Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas), Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah, bagaimana Etika Profesi Kepemimpinan Pelayanan Pembangunan yang sebaiknya dibangun dimasa sekarang dan yang akan datang ? Satu kata untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan Big Bang Leadership (ledakan dahsyat dalam kepemimpinan), yang ini tentu perlu penjelasan dengan seksama.

5.      Kepemimpinan yang etik menggabungkan antara pengambilan keputusan etik dan perilaku etik dan Filsafat Kepemimpinan menggabungkan antara pengambilan keputusan bijak dan perilaku yang bijaksana, yang merupakan Conditio sine quanon dan pembangunan secara universal dan integrative, namun fenomena atau sebut kasus antara das sein dan das solen tidaklah berjalan secara harmonis, sehingga perlu diadvokasi.

6.      Manusia memiliki kelebihan dibanding dengan mahkluk lain yaitu diberikannya akal ada yang menyebut IQ, kemudian juga diberi Ruh yang mampu membedakan yang salah dan benar yang disebut EQ, dan Kejujuran yang orang lain menyebut SQ, akhirnya kemenangan atau kesuksesa QQ, dan Ruh serta Kejujuran itulah yang kita sebut Etika dan Filsafat Kepemimpinan. Imlementasi dalam Kepemimpinan, Pelayanan Publik dan Pembangunan membutuhkan kesungguhan dalam berfikir dan bertindak secara visioner dan integrative dengan benar-benar menjadikannya segai good human life. Apa kisi-kisi yang mendukung dan faktor-faktor penghambatnya agar semuanya berjalan seperti yang kita harapkan bersama. 

7.      Maka dari itu proses pendidikan tinggi sebagai calon pemimpin harus dibudayakan dengan membangun pengertian atau pola berfikir (mindset) menjadi suatu proses kebudayaan yang terjadi dalam proses belajar dan mengajar yang memiliki value/nilai-nilai: benar dan salah, baik dan buruk (respect), Kepantasan untuk dilakukan (best to do), Just and Fair (hanya dan tidak hanya), yang akhirnya disebut Responsibilitas atau Three fundamental conditions of value-etics. Apa langkah-langkah strategis untuk menuju kesama ?

8.      Namun dalam proses waktu patologi yang merupakan hambatan atau penyakit leader dan follower dalam kepemimpinan, pelayanan publik dan pembangunan, yang memiliki sifat terbias dengan politis, ekonomis, sosio-kultural, dan teknologikal, yang juga dapat terjadi pada dunia birokrasi dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain:
a)      Patologi akibat persepsi, perilaku dan gaya pemimpin: yaitu berupa penyalah gunaan wewenang, status-quo, menerima sogok, takut perubahan dan inovasi, sombong menghindari keritik, nopoteisme, arogan, tidak adil, paranoid,  otoriter, patronase, dsb;  
b)      Patologi akibat pengetahuan dan keterampilan berupa: puas diri, tidak teliti, bertindak  tanpa berpikir, counter produktif, tidak mau berkembang/belajar, pasif, kurang prakarsa/inisiatif, tidak produktif, stagnasi dsb.
c)      Patologi karena tindakan melanggar hukum berupa: menerima suap, tidak jujur, korupsi, penipuan, kriminal, sabotase, dsb.
d)      Patologi akibat keprilakukan berupa: kesewenangan, pemaksaan, konspirasi, diskriminasi, tidak sopan, kerja legalistik, dramatisiasi, indisipliner, tidak berkeprimanusiaan, negatifisme, kepentingan  sendiri, non profesional, vested interest, pemborosan  dsb.
e)      Patologi akibat situasi internal berupa: tujuan dan sasaran tidak efektif dan efisien, kewajiban sebagai beban, eksploitasi, eksstrosi/pemerasan, pengangguran terselubung, kondisi kerja yang tidak nyaman, tidak ada kinerja, miskomunikasi dan informasi, spoil sisten, oper personil dsb.        

    
9.      Untuk itu dibutuhkan pembaharuan Etika Kepemimpinan, meliputi Gaya Kepemimpinan berbasis Kompetensi, Fungsi Kepemimpinan (Kebijakan, pelayanan, kemitraan, kerjasama,  pemberdayaan sumber daya dsb), Proses Kepemimpinan dengan pendekatan strategis, Perilaku pemimpin berorientasi nilai, norma, aturan, etika, moral adat istiadat, budaya dan agama. Semua hal tersebut di atas dalam rangka Leader terhindar dari Marjinalisasi, yang meliputi Kemiskinan yaitu ketidak kemampuan secara material atau im-material, yang berdampak pada ketidak mampuan memperoleh pendidikan yg layak dampaknya pada, kebodohan yaitu orang yang tidak memiliki ilmu, wawasan ilmiah, tidak memiliki kemahiran dalam bekerja, kehidupannya tergantung dengan orang lain sebagai calon advokator apa usulan pemecahannya ?

10.  Untuk itu dalam mengelola pemerintah atau organisasi maka diperlukan manajemen atau kepemimpinan yang baik (good) yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu  dari sisi proses dan dari sisi hasilnya (good governance / organization). Sebagai proses: harus lebih mengutamakan proses yang demokratis di atas segala rencana dan tujuan yang telah ditentukan, sebagai hasil: akan menggambarkan kesungguhan hati, pemakaian secara efisien akan sumber-2 yang terbatas dengan menggunakan administrasi yang baik di atas proses yang ada.

11.  Dalam pelaksanaan pembangunan, leader maupun follower, memiliki daya, menurut  John Frenc dan Bentran Raven diantaranya Reward power / daya menghargai, Coersive power / daya memaksa, Legitimate power / daya syah, Expert power / daya ahli, Referent power / daya referensi. Yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, namun tetap efektif bila digunakan secara tepat, dengan mengedepankan Etika, Filsafat, Kepemimpinan, Pelayanan dan Pembangunan.

12.  Pelayanan Publik menyangkut aspek kehidupan yang luas, menyangkut sejumlah informasi, sukar disentuh dan diukur secara eksak ukuran kepuasannya, sensitif dan sukar diprediksi, Tergantung dengan nilai yang dianggap pantas, pendek kata: kita harus melihat dan mendekati pelayanan (apakah swasta atau publik) secara sistemik (Davis & Heineke, 2003) Namun Pemerintah… belum mengatur adanya suatu standar pelayanan publik … (Aminuddin Ilmar dan Kasman Abdullah, 2006) Pelayanan publik di Indonesia masih sangat rendah (Gov. Des. Survey, Bank Dunia, 2002) bagaimana pendapat saudara? UU, no 22, 2001, Pemerintah Daerah Memotong hambatan birokratis, pelayanan publik; UGM, 2002, secara umum kualitas pelayanan publik mengalami   Perbaikan; Terjawab dng Oto Da ada peningkatan pelayanan publik; Berkualitaskah ? Dari hasil penelitian tersebut, masalah yang penting, Besarnya deskriminasi pelayanan; Tidak adanya kepastian biaya dan waktu, Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik   (GDS, 2002)
Malang 30 Juni 2011


           

Masalah


PERMASALAHAN PENELITIAN
   MASALAH PENELITIAN SEBAGAI DASAR MENGAPA PENELITIAN DILAKUKAN
   PERMASALAHAN DITUANGKAN DALAM LATAR BELAKANG PENELITIAN
   LATAR BELAKANG DIMULAI DARI HAL YANG BERSIFAT UMUM KEMUDIAN MENGERUCUT KE PERMASALAHAN YANG LEBIH SPESIFIK

HUBUNGAN ANTARA KETEPATAN MASALAH DAN PEMECAHANNYA
SUMBER PERMASALAHAN DALAM PENELITIAN:
lBersumber dari kehidupan sehari-hari.
Adanya penyimpangan antara pengalaman dan kenyataan
Terdapat penyimpangan antar rencana dan kenyataan
Terdapat pengaduan
Adanya persaingan
lBersumber pada buku atau penelitian sebelumnya
Untuk penyempurnaan
Untuk verivikasi
Untuk pengembangan

Permasalahan yang baik:
l Bermanfaat
l Dapat dilaksanakan
l Kemampuan teori dari peneliti
l Waktu yang tersedia
l Tenaga yang tersedia
l Dana yang tersedia
l Adanya faktor pendukung
l Tersedianya Data
l Tersedianya ijin dari pihak yang berwenang
l Adanya Faktor Pendukung
l Tersedianya Data
l Tersedianya ijin dari pihak berwenang

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah
l    Masalah harus dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda
l    Rumusan masalah hendaknya dapat mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
l    Rumusan masalah hendaknya dinyatakan dalam kalimat tanya


Beberapa kesalahan yang terjadi dalam memilih permasalahan penelitian:
Permasalahan penelitian tidak diambil dari akar masalah yang sesungguhnya
   Permasalahan yang akan dipecahkan tidak sesuai dengan kemampuan peneliti baik dalam penguasaan teori, waktu, tenaga dan dana.
   Permasalahan yang akan dipecahkan tidak sesuai dengan faktor-faktor pendukung yang ada.

PEMBATASAN MASALAH:
   Agar penelitian dapat mengarah ke inti masalah yang sesungguhnya maka diperlukan pembatasan penelitian sehingga penelitian yang dihasilkan menjadi lebih fokus dan tajam

Berkaitan dengan perumusan masalah ?
Apa permasalahan utama sehingga perlu dilakukan penelitian?
Apakah tujuan dilaksanakannya penelitian ?
Apakah datanya bisa diperoleh ?
   Apakah kita mempu untuk melakukan penelitian dilihat dari biaya, tenaga, waktu dan latar belakang teori ?
Apakah dapat memperoleh untuk mendapatkan ijin penelitian?
Berapa banyak informasi yang sudah kita peroleh ?
Apakah masih perlu dilakukan studi pendahuluan ?

Masalah Penelitian
   Tahap paling krusial, sebab tujuan akan menjawab permasalahan. Kalau permasalahan tidak jelas , penelitian tidak bisa dilakukan dengan baik.
   Penemuan masalah harus dibarengi dengan pemecahan masalah.
   Proses penemuan masalah: Identifikasi bidang, pemilihan pokok masalah, dan perumusan masalah.

Tipe Masalah Penelitian
Masalah dalam lingkungan organisasi
Masalah dalam area tertentu suatu organisasi.
Persoalan teoritis untuk menjelaskan fakta.
Peramasalahan yang perlu jawaban empiris.

Kriteria Masalah
Merupakan Bidang masalah dan topik yang menarik.
Signifikansi secara teoritis dan praktis.
Dapat diuji melalui pengumpulan data dan analisis data.
Sesuai dengan waktu dan biaya.



Sumber Penemuan Masalah
Kajian teoritis
Kajian Empiris

Perumusan Masalah
Rumusan harus jelas dan tegas.
Tidak ambiguitas
Mengekspresikan hubungan antara dua variabel atau lebih.
  Masalah penelitian harus tampak dan dirasakan sebagai suatu tantangan bagi peneliti untuk dipecahkan dengan mempergunakan keahlian atau kemampuan profesionalnya

  Masalah penelitian merupakan kondisi yang menunjukkan kesenjangan (gap) antara peristiwa atau keadaan nyata (das sain) dengan tolok ukur tertentu (das sollen) sebagai kondisi ideal atau seharusnya bagi peristiwa atau keadaan tertentu.

  Masalah penelitian adalah keraguan yang timbul terhadap suatu peristiwa atau keadaan tertentu berupa kesangsian tentang tingkat kebenarannya suatu peristiwa atau keadaan

  Untuk membantu peneliti muda dalam usaha mennyeleksi dan merumuskan masalah dan sub-masalah yang patut dibahas secara ilmiah ada beberapa kriteria yang perlu mendapat perhatian :

Masalah penelitian harus dipilih yang berguna untuk diungkapkan.
Masalah yang dipilih harus relevan dengan kemampuan atau keahlian peneliti.
Masalah penelitian harus menarik perhatian untuk diungkapkan.

Masalah penelitian sedapat mungkin menghasilkan sesuatu yang baru.
  Masalah penelitian harus dipilih yang dapat dihimpun datanya secara lengkap dan obyektif.
Masalah penelitian tidak boleh terlalu luas, tetapi juga tidak boleh terlalu sempit

MEMILIH MASALAH PENELITIAN
Masalah yang dipilih untuk penelitian khususnya dalam rangka menyusun Skripsi  atau Tugas Akhir yaitu masalah atau fenomena yang mengandung kesenjangan

Kesenjangan adalah ketidak cocokan antara :
   Kenyataan     dan    Harapan yaitu suatu yang semestinya menurut kaidah-kaidah keilmuan dan atau kewajaran, ketentuan yang merupakan konsep, Variabel, teori atau hukum yang berlaku.

Masalah tersebut harus disusun menjadi kalimat judul, suatu kalimat yang singkat,padat tetapi menyatakan secara spesifik inti kandungan didalamnya yang akan dijadikan judul Skripsi atau Tugas Akhir.

Pada umumnya judul Skripsi atau Tugas Akhir mengandung beberapa elemen :
Variabel bebas
Variabel terikat
Subjek penelitian
Domiisili subjek

Variabel-variabel itulah yang sebenarnya menjadi objek penelitian.

II. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN

Perumusan masalah penelitian dapat dilakukan dalam 2 (dua) cara :

1.  Dalam bentuk Problem Statement mengacu pada Jalur Penelitiannya
     a.  Belum mengetahui deskripsi tentang ………. ( Variabel terikat)
     b.  Belum dapat menjelaskan tentang ………… (variabel terikat)
     c.  Belum menemukan metode atau teknik tentang ……(Variabel terikat) secara
          efisien dan efektif
     d.  Belum mengetahui sejauh mana derajat keberadaan fenomena …..

2.  Dalam bentuk Research Question :
     a.  Bagaimana deskripsi tentang ........
     b.  Bagaimana penjelasan tentang ……..
     c.  Bagaimana metode atau teknik untuk ………
     d.  Sejauh mana masalah tersebut ……..

Perumusan masalah merupakan salah satu indikator potensi pikir peneliti
a.  Curiosity  : Rasa ingin mengetahui suatu realita yang terjadi
b.  Creativity : Rasa ingin menemukan sesuatu yang baru atau mengembangkan
                        sesuatu yang sudah ada menjadi yang lebih baik.

PERUMUSAN MASALAH
III. RINCIAN MASALAH PENELITIAN
Masalah penelitian  yang telah dirumuskan perlu dirinci secara :
     * Jelas            * Tegas            * Konkrit         
                                                        Sampai     Tingkat operasional

Agar memudahkan penelitian dan atau mencari jawabannya.




Dalam hal ini penulis dituntut untuk memahami  :
    Konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah tersebut
    Komponen / bagian / elemen dari masalah yang menjadi objek penelitian.
    Karena bangun komponen   itulah yang diterapkan pada masalah.

Komponen suatu fenomena / masalah dapat berupa  :
A.  Wujud dari benda / zat
B. Suatu proses
C.  Suatu fungsi

Sedangkan komponen adalah  :
A.  Unsur-unsurnya
B.  Ciri-cirinya
C.  Sifat-sifatnya

Pengetahuan berupa deskripsi suatu fenomena khusus digambarkan oleh :
Unsur-unsur,  Ciri-ciri  dan  Sifat-sifatnya

RINCIAN MASALAH PENELITIAN

CONTOH RINCIAN MASALAH :
  Pendaftaran siswa baru secara online
  Elemen-elemen  :
  1.  Web site tentang Profile Sekolah
  2.  Form Pendaftaran Siswa Baru
       a.  Nama lengkap
       b.  Jenis kelamin
       c.  Tempat dan tanggal lahir
       d.  Alamat tempat tinggal orang tua
       e.  Nama sekolah dan alamatnya
       f.   Program Kejuruan yang dipilih
  3.  Alamat e-Mail Panitya Penerimaan Siswa Baru
  4.  Jadwal Penerimaan pendaftaran
  5.  Jadwal Kegiatan calon siswa baru
       a.  Test Seleksi Calon siswa baru
       b.  Tanggal pengumuman hasil seleksi
       c.  Kelengkapan syarat pendaftaran
       d.  Registrasi (Biaya pendaftaran, batas tang-
            gal registrasi)
       e.  Kalender Pendidikan
       f.  Jadwal rapat orang tua siswa baru




HUBUNGAN PERUMUSAN MASALAH
DENGAN MAKSUD PENELITIAN
 PERUMUSAN MASALAH

  Belum mengetahui deskripsi fenomena tertentu secara konkrit pada situasi dan
   kondisi tertebtu.

    Belum mengetahui deskripsi dari sejumlah fenomena yang terjadi secara umum secara abstrak dan universal.

    Belum dapat menjelaskan terjadinya fenomena secara umum, abstrak dan universal

    Belum menemukan metode dan teknik mencapai suatu tujuan secara praktis,   efektif dan efisien


           
MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

Maksud Penelitian berpijak pada
Perumusan masalah,
karena maksud Penelitian merupakan konsekwensi logis dari perumusan masalah.

Maksud penelitian menunjuk pada apa yang akan  dikerjakan atau dilakukan dalam penelitian tersebut dan pada operasionalisasi metode penelitian yang akan digunakan

Tujuan Penelitian berpijak pada Identifikasi masalah dan menunjuk pada Hasil apa yang ingin dicapai oleh pekerjaan atau tindakan tersebut

Tujuan penelitian menunjuk pada macam pengetahuan apa yang ingin dicapai oleh operasionalisasi metode penelitian.

TUJUAN PENELITIAN

Hasil yang diharapkan dapat dicapai adalah pengetahuan-pengetahuan yang merupakan JAWABAN terhadap masalah yang dirumuskan

Jadi kalau Maksud penelitian merupakan upaya menjawab masalah yang telah dirumuskan, maka Tujuan Penelitian menunjuk pada HASIL JAWABANNYA

Pemaparan Tujuan Penelitian harus jelas dan tegas dalam hal menekankan tingkat pengetahuan mana yang akan dicapainya :

    Pengetahuan deskriptif khusus : sejauh mana kedalaman unsur-unsurnya, ciri-ciri dan sifat-sifatnya
    Pengetahuan deskriptif umum :  sejauh mana luas cakupannya, jumlah variasi situasi dan kondisinya.

    Pengetahuan eksplanatif teoritis : sejauh mana fakta-fakta yang tercakup di dalamnya dan pada situasi dan kondisi mana saja berlakunya.

4.   Pengetahuan eksplanatif praktis : sejauh mana kedalaman aplikasinya dan pada situasi dan kondisi mana berlakunya.

MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN
MANFAAT HASIL PENELITIAN

Manfaat hasil penelitian bersangkutan dengan RASIONALE yaitu manfaat jika fenomena itu berhasil diungkapkan (diketahui) ditinjau dari aspek :
A.  Teoritis
B.  Praktis / aplikatif

Tergantung dari bentuk pengetahuan yang diperolehnya
Berupa deskriptif khusus :
            a.  Pengisian kekosongan pengetahuan yang bersifat      khusus.
            b.  Menemukan tindakan yang dapat dilakukan untuk    mengatasi                                      penyimpangan-penyimpangan atau
Memecahkan persoalan-persoalan atau             mengatasi hal-hal          yang tidak diharapkan.

Berupa deskripsi umum, abstrak dan universal.
a.   Pengetahuan tentang hubungan sebab akibat, bermanfaat bagi       upaya untuk menyusun teori yaitu jalinan fakta-fakta menurut   kerangka bermakna.
b.   Setelah melalui tahap operasionalisasi, maka penemuan     tersebut dapat dijadikan dasar   melakukan diagnosis suatu    masalah sehingga dapat dicarikan jalan pepecahannya.

3. Berupa pengetahuan eksplanasi faktual :

A.  Pengetahuan tentang hubungan sebab akibat yang bersifat umum,                             abstrak dan universal sangat berguna untuk menyususn teori                          yang berperan untuk : menentukan pijakan, perumusan dan                                penjelasan teoritis, karena :
     *  Teori dimulai dari fakta
     *  Fakta dapat menolak dan mereformulasi teori yang telah ada.
     *  Fakta dapat mendefinisikan kembali dan memperjelas teori.

B.  Sebagai dasar untuk menyusus hipotesis atas dasar prinsip deduktif



4.  Berupa pengetahuan eksplanasi praktis / teknologi

     
A.  Penemuan tentang teknik atau metode untuk mencapai suatu tujuan                                yang sudah teruji secara eksperimental dapat berguna bagi                                  penyusunan teori baru.

      B.  Dapat memberi petunjuk-petunjuk operasional yang biasa disebut                                  sebagai  teknologi tepat guna atau tepat sasaran.

MANFAAT HASIL PENELITIAN

PENDEKATAN MASALAH

III. IDENTIFIKASI  MASALAH

Mengidentifikasi masalah adalah :
Merinci masalah yang telah dirumuskan secara :
     * Jelas            * Tegas            * Konkrit         
     Sampai     Tingkat operasional

Agar memudahkan penelitian dan atau mencari jawabannya.

Dalam hal ini penulis dituntut untuk memahami  :
    Konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah tersebut
    Komponen / bagian / elemen dari masalah yang menjadi objek penelitian.

Karena bangun komponen   itulah yang diterapkan pada masalah.

Komponen suatu fenomena / masalah dapat berupa  :
A.  Wujud dari benda / zat
B.  Suatu proses
C.  Suatu fungsi

Sedangkan komponen adalah  :
A.  Unsur-unsurnya
B.  Ciri-cirinya
C.  Sifat-sifatnya

Pengetahuan berupa deskripsi suatu fenomena khusus digambarkan oleh :
Unsur-unsur,  Ciri-ciri  dan  Sifat-sifatnya

Apakah Masalah itu?           
           
Variabel yang menjadi tema pokok penelitian
Masalah  Kasus yg menjadi fokus penelitian

Suatu variabel atau kasus menjadi permasalahan penelian. jika terjadi kesenjangan antara kenyataan dan yang seharusnya dari variabel dan kasus tsb.

Bila ada informasi yg mengakibatkan munculnya kesenjangan dalam pengetahuan kita
Bila ada hasil-hasil yang bertentangan

Selasa, 28 Juni 2011

etika filsafat kepemimpinan pelayanan publik dan pembangunan



ISU ETIKA, FILSAFAT KEPEMIMPINAN
PELAYANAN PUBLIK DAN PEMBANGUNAN

1.      Pada dasarnya manusia itu (termasuk mahasiswa) setiap saat selalu dihadapkan pada masalah, dan untuk memecahkan masalahnya manusia menggabungkan dirinya pada organisasi atau kelompok, yang akhirnya terangkatlah seorang pemimpin (Leader) baik formal maupun non formal, tidak sedikit yang gagal dan juga banyak yang berhasil dalam memberikan pelayanan pada anggota atau masyarakat, namun secara umum  kurang atau tidak efektif atau sebut kurang kontributif pada pembangunan, mengapa ini terjadi? Jangan-jangan salah kepemimpinannya, atau dalam pengambilan keputusan, terjadinya pembedaan Gender, HAM dalam Pembangunan, padahal manusia itu idealnya adalah mampu menjaga fitrah-Nya, yaitu diberikan pada kita oleh Tuhan berupa Akal (IQ), Emosi (EQ) dan Spiritual (SQ) yang harus dipimpin secara harmonis, efektif dan efisien (professional) agar dapat maksimal sehingga membentuk masyarakat madani.

2.      Mahasiswa sebagai calon Leader yang diharapkan dimasa yang akan datang adalah sebagai agen perubahan dan pembangunan / agent of change and development, memiliki tanggung jawab cukup berat, karena harus mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk yang disebut atau dalam  Etika Kepemimpinan dan Pelayanan Publik untuk membangun bangsa ini, hingga akhirnya  dia (calon leader tadi) menjadi Bijaksana, yaitu baik untuk dirinya sendiri, baik untuk orang lain atau organisasi / masyarakat luas,  yang oleh kita disebut Filsafat, lalu apa tujuannya?, Filsafat paling tidak menjawab pertanyaan, Apa yang aku ketahui ? (What do I know ?), Bagaimana aku mengetahuinya? (How do I know it ?), Apakah aku yakin ? (Am I sure ?), Apakah aku benar ? (Am I right?)

3.      Secara akademis baik Leader maupun Follower (bawahan/anggota) dalam Pelayanan Publik dan Pembangunan  mengedepankan orientasi work/task (pekerjaan) dan human (manusia), sehingga memunculkan gaya, tipe atau teknik serta style kepemimpinan yang beraneka ragam, ada yang otoriter, ada yang demokratis dan ada yang liberal, bahkan berdemensi relatif heterogen diantaranya kharismatik, administratif, visioner, integratif, pelari dan lain-lain. Masing-masing punya kebaikan dan keburukan atau kelebihan dan kekurangan, namun kita tetap harus dapat memilah dan memilih mana yang efektif ?  Dalam kepemimpinan (leadership)  Etika Publik menjawab pertanyaan “apakah saya harus melangkah dengan cara itu?” Moral menjawab pertanyaan “bagaimana saya harus melangkah?”

4.      Filsafat adalah berpikir dengan cara yang benar (teoritis) untuk menemukan keputusan pengetahuan atau kebijakan yang benar (praktis), Manfaat Filsafat bagi mahasiswa atau manusia pada umumnya dengan membiasakan diri utuk bersikap kritis, logis-rasional, opini dan argumentatif, Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas), Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah, bagaimana Etika Profesi Kepemimpinan Pelayanan Pembangunan yang sebaiknya dibangun dimasa sekarang dan yang akan datang ? Satu kata untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan Big Bang Leadership (ledakan dahsyat dalam kepemimpinan), yang ini tentu perlu penjelasan dengan seksama.

5.      Kepemimpinan yang etik menggabungkan antara pengambilan keputusan etik dan perilaku etik dan Filsafat Kepemimpinan menggabungkan antara pengambilan keputusan bijak dan perilaku yang bijaksana, yang merupakan Conditio sine quanon dan pembangunan secara universal dan integrative, namun fenomena atau sebut kasus antara das sein dan das solen tidaklah berjalan secara harmonis, sehingga perlu diadvokasi.

6.      Manusia memiliki kelebihan dibanding dengan mahkluk lain yaitu diberikannya akal ada yang menyebut IQ, kemudian juga diberi Ruh yang mampu membedakan yang salah dan benar yang disebut EQ, dan Kejujuran yang orang lain menyebut SQ, akhirnya kemenangan atau kesuksesa QQ, dan Ruh serta Kejujuran itulah yang kita sebut Etika dan Filsafat Kepemimpinan.

7.      Maka dari itu proses pendidikan tinggi sebagai calon pemimpin harus dibudayakan dengan membangun pengertian atau pola berfikir (mindset) menjadi suatu proses kebudayaan yang terjadi dalam proses belajar dan mengajar yang memiliki value/nilai-nilai: benar dan salah, baik dan buruk (respect), Kepantasan untuk dilakukan (best to do), Just and Fair (hanya dan tidak hanya), yang akhirnya disebut Responsibilitas atau Three fundamental conditions of value-etics.

8.      Namun dalam proses waktu patologi yang merupakan hambatan atau penyakit leader dan follower dalam pelayanan public, yang memiliki sifat politis, ekonomis, sosio-kultural, dan teknologikal, yang juga dapat terjadi pada dunia birokrasi dipengaruhi oleh factor-faktor antara lain:
a)   Patologi akibat persepsi, perilaku dan gaya pemimpin: penyalah gunaan wewenang, statusquo, menerima sogok, takut perubahan dan inovasi, sombong menghindari keritik, nopoteisme, arogan, tidak adil, paranoid,  otoriter, patronase, dsb;  
b)  Patologi akibat pengetahuan dan keterampilan berupa: puas diri, tidak teliti, bertindak  tanpa berpikir, counter produktif, tidak mau berkembang/belajar, pasif, kurang prakarsa/inisiatif, tidak produktif, stagnasi dsb.
c)  Patologi karena tindakan melanggar hukum berupa: menerima suap, tidak jujur, korupsi, penipuan, kriminal, sabotase, dsb.
d)  Patologi akibat keprilakukan berupa: kesewenangan, pemaksaan, konspirasi, diskriminasi, tidak sopan, kerja legalistik, dramatisiasi, indisipliner, tidak berkeprimanusiaan, negatifisme, kepentingan  sendiri, non profesional, vested interest, pemborosan  dsb.
e)  Patologi akibat situasi internal berupa: tujuan dan sasaran tidak efektif dan efisien, kewajiban sebagai beban, eksploitasi, eksstrosi/pemerasan, pengangguran terselubung, kondisi kerja yang tidak nyaman, tidak ada kinerja, miskomunikasi dan informasi, spoil sisten, oper personil dsb.        

    
9.      Untuk itu dibutuhkan pembaharuan Etika Kepemimpinan, meliputi Gaya Kepemimpinan berbasis Kompetensi, Fungsi Kepemimpinan (Kebijakan, pelayanan, kemitraan, kerjasama,  pemberdayaan sumber daya dsb), Proses Kepemimpinan dengan pendekatan strategis, Perilaku pemimpin berorientasi nilai, norma, aturan, etika, moral adat istiadat, budaya dan agama.

10.  Untuk itu dalam mengelola pemerintah atau organisasi maka diperlukan manajemen atau kepemimpinan yang baik (good) yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu  dari sisi proses dan dari sisi hasilnya (good governance / organization). Sebagai proses: harus lebih mengutamakan proses yang demokratis di atas segala rencana dan tujuan yang telah ditentukan, sebagai hasil: akan menggambarkan kesungguhan hati, pemakaian secara efisien akan sumber-2 yang terbatas dengan menggunakan administrasi yang baik di atas proses yang ada.

11.  Dalam pelaksanaan pembangunan, leader maupun follower, memiliki daya, menurut  John Frenc dan Bentran Raven diantaranya Reward power / daya menghargai, Coersive power / daya memaksa, Legitimate power / daya syah, Expert power / daya ahli, Referent power / daya referensi. Yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, namun tetap efektif bila digunakan secara tepat, dengan mengedepankan Etika, Filsafat, Kepemimpinan, Pelayanan dan Pembangunan.

12.  Pelayanan Publik menyangkut aspek kehidupan yang luas, menyangkut sejumlah informasi, sukar disentuh dan diukur secara eksak ukuran kepuasannya, sensitif dan sukar diprediksi, Tergantung dengan nilai yang dianggap pantas, pendek kata: kita harus melihat dan mendekati pelayanan (apakah swasta atau publik) secara sistemik (Davis & Heineke, 2003) Namun Pemerintah… belum mengatur adanya suatu standar pelayanan publik … (Aminuddin Ilmar dan Kasman Abdullah, 2006) Pelayanan publik di Indonesia masih sangat rendah (Gov. Des. Survey, Bank Dunia, 2002) bagaimana pendapat saudara? UU, no 22, 2001, Pemerintah Daerah Memotong hambatan birokratis, pelayanan publik; UGM, 2002, secara umum kualitas pelayanan publik mengalami   Perbaikan; Terjawab dng Oto Da ada peningkatan pelayanan publik; Berkualitaskah ? Dari hasil penelitian tersebut, masalah yang penting, Besarnya deskriminasi pelayanan; Tidak adanya kepastian biaya dan waktu, Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik   (GDS, 2002)