Madinah

.......................

Mekah

.....................

Bertaubatlah

Ajal tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kitalah yang menunggu ajal dengan bertaubat.

ADAB MENUNTUT ILMU

Akan aku jelajahi semua negeri untuk mencari ilmu, atau aku akan mati sebagai orang asing, jika diriku harus mati. Aku tidak menyesal karena ALLAH pasti merahmati aku, Tetapi jika selamat, Aku akan segera kembali.

Tampilkan postingan dengan label Etika dan Filsafat Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Etika dan Filsafat Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juli 2012

Tugas Etika dan Filsafat Kepemimpinan

Etika dan Filsafat Kepemimpinan






1. Dimana terdapat kelompok manusia, komunitas, jamaah, atau umat yang hidup bersama (bermasyarakat), di sana diperlukan adanya suatu bentuk kepemimpinan dan kepengurusan yang berfungsi mengatur dan mengurus jalannya kehidupan dan hubungan antar manusia agar dinamis dan harmonis. Sumber: Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership, Diva Press, Jogjakarta, 2008, hlm 16.


Pertanyaan:


a. Apa makna fungsi Leadership mengatur kehidupan agar harmonis ?


b. Jelaskan singkat fungsi Etika dalam Leadership dan Followership ?


c. Apa makna Filsafat Kepemimpinan dalam Leadership yang harmonis ?






2. Kepemimpinan berarti membuat orang menyukai hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat orang mengerjakan hal yang tidak mereka sukai, dan menyukainya” (Harry Truman).


Pertanyaan:


a. Bagaimana etika kepemimpinan agar orang menyukai kepemimpinan kita ?


b. Bagaimana peran Filsafat Kepemimpinan membuat Followership menyukai Leadership ?


c. Dapatkah etika dan filsafat mampu meningkatkan efektivitas kepemimpinan ?






3. Kepemimpinan yang dibagikan adalah kepemimpinan yang berlipat ganda “Tidak seorangpun dapat menjadi seorang pemimpin besar jika ingin melakukan segalanya sendiri, atau mendapatkan semua pujian” (Andrew Carnegie).


Pertanyaan:


a. Apa maksud kepemimpinan yang dibagikan ?


b. Apa dampak negatif pemimpin yang melakukan segalanya sendiri ?


c. Melalui konsep tersebut berikan makna bila dilihat dari kepemimpinan situasional ?






4. Visi adalah seni untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat (Jonathan Swift). Fungsi kepemimpinan adalah untuk menghasilkan lebih banyak pemimpin, bukan lebih banyak pengikut” (Ralph Nader). Mengenal orang lain adalah kecerdasan, mengenal diri Anda adalah kebijakan sejati. Menguasai orang lain adalah kekuatan, menguasai diri Anda adalah kekuatan sejati (Lao Tsu).


Pertanyaan:


a. Anda ingin menjadi seorang pemimpin, Apa visi saudara saat ini ?


b. Bagaimana visi yang saudara buat tersebut diterjemahkan dalam misi ?


c. Dengan demikian saudara telah melakukan decision making, jelaskan singkat !






Keterangan:


1. Bagi yang telah memiliki blog, berikan informasi kepada kami alamat blog serta nomor HP saudara guna untuk kepentingan tracer study.


2. Berikan analisis Saudara minimal satu nomor pada blog dosen yang telah disediakan, terimakasih.

Selasa, 26 Juni 2012

Materi 56, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, Taksonomi Perilaku Kepemimpinan

56 TAKSONOMI PERILAKU KEPEMIMPINAN
Sebuah masalah besar dalam penelitian mengenai kandungan dari perilaku kepemimpinan adalah identifikasi kategori perilaku yang relevan dan berarti bagi semua pemimpin.

Dalam penelitian atas aktivitas manajerial, kita melihat bahwa setiap studi menghasilkan sekumpulan kategori  perilaku yang agak berbeda yang menyulitkan untuk membandingkan dan mengintegrasikan hasil lintas studi. Kondisi  yang sama juga terjadi pada penelitian deskriptif .   

Konsekwensinya, empat decade terakhir ini telah menyaksikan timbulnya berbagai konsep perilaku yang membingungkan menyangkut para manajer  dan pemimpin.

Terkadang digunakan istiah berbeda untuk menunjukkan jenis perilaku yang sama. Pada saat lainnya, istilah yang sama tersebut telah didefinisikan secara berbeda oleh seorang berbagai ahli teori.

Apa yang diperlukan sebagai kategori perilaku yang umum oleh seorang ahli teori, dipandang sebagai  dua atau tiga kategori berbeda oleh para ahli teori lainnya.

Taksonomi yang berbeda telah timbul dari disiplin penelitian yang berbeda, dan sulit sekali untuk menerjemahkan sejumlah konsep ke konsep lainnya.

Taksonomi yang berbeda telah timbul dari disiplin penelitian yang berbeda, dan sulit sekali untuk menerjemahkan  sejumlah konsep ke konsep lainnya.

Tabel di bawah ini menyebutkan beberapa taksonomi perilaku yang diusulkan selama 50 tahun terakhir:
Tabel: Tinjauan mengenai Taksonomi Perilaku:
Pengarang dan Tahun                                    Tujuan Utama                                   Metode Utama
Fleishman, 1953                                 Menjelaskan perilaku efektif                             Analasis faktor
Stogdill et al, 1962                             Menjelaskan perilaku efektif                             Teoritis deduktif
Mahoney et al, 1963                         Menjelaskan persyaratan pekerjaan                Teoritis deduktif
Bowers & Seashore. 1966                Menjelaskan perilaku efektif                             Teoritis deduktif
Mintzberg, 1973                                 Menggolongkan aktifitas yang diamati           Klsifiksi penilaian
House & Mitchell, 1974                    Menjelaskan perilaku efektif                             Teoritis deduktif
Morse & Wagner, 1978                     Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Yukl & Nemeroff, 1979                      Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Luthans & Lockwood, 1984             Menggolongkan aktifitas yg diamati               Klsifiksi penilaian
Page, 1985                                           Menjelaskan prasyarat pekerjaan                     Analisis faktor
Yukl et al, 1990                                    Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Bass & Avolio, 1990                          Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Wilson et al, 1990                               Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Podsakoff et al, 1990                          Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor
Fleishman et al, 1991                          Menjelaskan perilaku efektif                             Teoritis deduktif
Conger & Kanungo, 1994                 Menjelaskan perilaku efektif                             Analisis faktor

Sumber bacaan:
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, Edisi Indonesia, Penerbit PT Indeks, 2010, h. 75.

                 
               


               

Senin, 25 Juni 2012

Materi 55, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, Potensi Manfaat Kepemimpinan Partisipasi


55 POTENSI MANFAAT KEPEMIMPINAN PARTISIPASI

Kepemimpinan partisipasi menawarkan beragam potensi manfaat, tetapi apakah manfaat itu nyata bergantung pada siapakah partisipannya, dan berapa banyak pengaruh yang mereka miliki, dan aspek lain dari situasi keputusan.

Empat potensi manfaat meliputi kualitas keputusan yang lebih tinggi, penerimaan keputusan yang lebih tinggi oleh partisipan, kepuasan lebih atas proses keputusan dan pengembangan ketrampilan pembuatan keputusan.

Kualitas Keputusan:
Melibatkan orang lain dalam membuat keputusan akan lebih mungkin untuk meningkatkan kualitas dari pada keputusan saat para partisipan memiliki informasi  dan pengetahuan yang tidak dimiliki pemimpin dan bersedia untuk bekerja sama dalam menemukan solusi yang baik atas masalah keputusan.

Bekerja sama  dan berbagi pengetahuan akan bergantung kepada batas di mana para partisipan mempercayai pemimpin dan pemimpin memiliki sasaran yang tidak dapat dibandingkan, kerja sama tidak mungkin akan terjadi.

Saat tidak adanya kerjasama, partisipasi dapat mengurangi bukannya meningkatkan kualitas keputusan.

Bahkan dengan kerjasama yang tinggi, tidak ada jaminan bahwa partisipasi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Proses keputusan yang digunakan oleh kelompok akan menentukan apakah anggota mampu mencapai kata sepakat, dan akan menentukan batas di mana keputusan itu memasukkan keahlian dan pengatahuan para anggotanya.

Jika para anggota memiliki persepsi berbeda akan masalah itu atau prioritas berbeda akan berbagai hasiul, sangatlah sulit untuk menemukan keputusan yang berkualitas tinggi.

Kelompok mungkin gagal mencapai kesepakatan atau gagal mengatasi kompromi yang buruk.

Akhirnya, aspek lain dan situasi keputusan seperti tekanan waktu, jumlah partisipan, dan kebijakan formal dapat membuat bentuk partisipasi menjadi tidak praktis.

Penerimaan Keputusan
Orang  yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mebuat keputusan cenderung untuk menganali dan memandangnya sebagai keputusan mereka.

Rasa kepemilikan ini meningkatkan motivasi mereka untuk menerapkannya  dengan berhasil.
Partisipasi juga memberikan pemahaman yang lebih baik atas sifat masalah keputusan dan alas an mengapa alternative tertentu diterima dan lainnya ditolak.

Partisipan mendapat pemahaman yang lebih baik tentang mengurangi ketakutan dan kecemasan yang tidak beralasan tentangnya.

Jika ada kemungkinan konsekwensi merugikan, partisipasi mengijikan orang mendapatkan solusi yang memcahkan kekhawatiran ini.

Akhirnya,  jika keputusan  dilakukan melalui proses partisipasi yang sah oleh sebagian besar anggota, maka kelompok itu akan mengkin menerapkan tekanan social pada anggota yang segan untuk melakukan bagian mereka dalam menerapkan keputusan/.

Keputusan Terhadap Proses Keputusan.
Penelitian mengenai keadilan procedural (misalnya Earley & Lind, 1987; Lind & Tyler, 1988), menemukan bahwa   kesempatan utuk memperlihatkan pendapat dan pilihan sebelum keputusan dibuat  (yang disebut “suara”) dapat memiliki pengaruh yang menguntungkan tanpa melihat jumlah pengaruh actual yng dimiliki partisipan atas keputusan akhir (yang disebut “pilihan”).

Orang akan lebih mungkin memandang bahwa mereka diperlakukan dengan bermartabat dan rasa hormat saat mereka memiliki kesempatan untuk mereka.

Hasil yang dimungkinkan adalah persepsi yang lebih besar atas keadilan procedural  dan keputusan yang lebih kuat terhadap proses keputusan (Roberson, Moye & Locke, 1999).

Namun jika tidak ada pengaruh sebenarnya atas keputusan, suara itu saja mungkin tidak menghasilkan komitmen yang kuat untuk menerapkan kepuasan itu.

Selanjutnya proses tersebut dapat menurunkan bukannya meningkatkan kepuasan jika partisipan memandang bahwa pemimpin sedang berusaha memanipulasi mereka untuk mendukung keputusan yang tidak disukai.


Sumber:
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, Edisi Indonesia, Edisi Kelima, Penerbit PT Indeks,   2010, hal 101 –102.


   
   


Minggu, 24 Juni 2012

Materi 54, Etika dan Filsafat Kepemimpinan, Potensi Manfaat Kepemimpinan Partisipasi


54 POTENSI MANFAAT KEPEMIMPINAN PARTISIPASI

Kepemimpinan partisipasi menawarkan beragam potensi manfaat, tetapi apakah manfaat itu nyata bergantung pada siapakah partisipannya, dan berapa banyak pengaruh yang mereka miliki, dan aspek lain dari situasi keputusan.

Empat potensi manfaat meliputi kualitas keputusan yang lebih tinggi, penerimaan keputusan yang lebih tinggi oleh partisipan, kepuasan lebih atas proses keputusan dan pengembangan ketrampilan pembuatan keputusan.

Kualitas Keputusan:
Melibatkan orang lain dalam membuat keputusan akan lebih mungkin untuk meningkatkan kualitas dari pada keputusan saat para partisipan memiliki informasi  dan pengetahuan yang tidak dimiliki pemimpin dan bersedia untuk bekerja sama dalam menemukan solusi yang baik atas masalah keputusan.

Bekerja sama  dan berbagi pengetahuan akan bergantung kepada batas di mana para partisipan mempercayai pemimpin dan pemimpin memiliki sasaran yang tidak dapat dibandingkan, kerja sama tidak mungkin akan terjadi.

Saat tidak adanya kerjasama, partisipasi dapat mengurangi bukannya meningkatkan kualitas keputusan.

Bahkan dengan kerjasama yang tinggi, tidak ada jaminan bahwa partisipasi akan menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Proses keputusan yang digunakan oleh kelompok akan menentukan apakah anggota mampu mencapai kata sepakat, dan akan menentukan batas di mana keputusan itu memasukkan keahlian dan pengatahuan para anggotanya.

Jika para anggota memiliki persepsi berbeda akan masalah itu atau prioritas berbeda akan berbagai hasiul, sangatlah sulit untuk menemukan keputusan yang berkualitas tinggi.
Kelompok mungkin gagal mencapai kesepakatan atau gagal mengatasi kompromi yang buruk.

Akhirnya, aspek lain dan situasi keputusan seperti tekanan waktu, jumlah partisipan, dan kebijakan formal dapat membuat bentuk partisipasi menjadi tidak praktis.

Penerimaan Keputusan
Orang  yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mebuat keputusan cenderung untuk menganali dan memandangnya sebagai keputusan mereka.

Rasa kepemilikan ini meningkatkan motivasi mereka untuk menerapkannya  dengan berhasil.
Partisipasi juga memberikan pemahaman yang lebih baik atas sifat masalah keputusan dan alas an mengapa alternative tertentu diterima dan lainnya ditolak.

Partisipan mendapat pemahaman yang lebih baik tentang mengurangi ketakutan dan kecemasan yang tidak beralasan tentangnya.

Jia ada kemungkinan konsekwensi merugikan, partisipasi mengijikan orang mendapatkan solusi yang memcahkan kekhawatiran ini.

Akhirnya,  jika keputusan  dilakukan melalui proses partisipasi yang sah oleh sebagian besar anggota, maka kelompok itu akan mengkin menerapkan tekanan social pada anggota yang segan untuk melakukan bagian mereka dalam menerapkan keputusan/.

Keputusan Terhadap Proses Keputusan.
Penelitian mengenai keadilan procedural (misalnya Earley & Lind, 1987; Lind & Tyler, 1988), menemukan bahwa   kesempatan utuk memperlihatkan pendapat dan pilihan sebelum keputusan dibuat  (yang disebut “suara”) dapat memiliki pengaruh yang menguntungkan tanpa melihat jumlah pengaruh actual yng dimiliki partisipan atas keputusan akhir (yang disebut “pilihan”).

Orang akan lebih mungkin memandang bahwa mereka diperlakukan dengan bermartabat dan rasa hormat saat mereka memiliki kesempatan untuk mereka.
Hasil yang dimungkinkan adalah persepsi yang lebih besar atas keadilan procedural  dan keputusan yang lebih kuat terhadap proses keputusan (Roberson, Moye & Locke, 1999).

Namun jika tidak ada pengaruh sebenarnya atas keputusan, suara itu saja mungkin tidak menghasilkan komitmen yang kuat untuk menerapkan kepuasan itu.

Selanjutnya proses tersebut dapat menurunkan bukannya meningkatkan kepuasan jika partisipan memandang bahwa pemimpin sedang berusaha memanipulasi mereka untuk mendukung keputusan yang tidak disukai.


Sumber:
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, Edisi Indonesia, Edisi Kelima, Penerbit PT Indeks,   2010, hal 101 –102.


   
   


Materi, 53, Etika dan Filsafat kepemimpinan, Macam Kepemimpinan Partisipatif


53 MACAM KEPEMIMPINAN PARTISIPASI

Kepemimpinan partisipasi dapat mengambil berbagai bentuk.
Berbagai bentuk prosedur pengambilan keputusan digunakan untuk mengikut sertakan orang lain dalam pengambilan keputusan.
Sejumlah ahli teori kepemimpinan telah mengajukan berbagai macam taksonomi mengenai prosedur pengambilan keputusan, dan hingga kini tidak ada kesepakatan mengenai jumlah prosedur pengambilan keputusan yang optimal atau cara terbaik untuk mendefinisikan (Heller & Yukl, 1969; Strauss, 1977; Tannenbaum & Schmidt, 1958; Vroom & Yetton, 1973).
Namun demikian kebanyakan ahli teori tersebut ingin mengakui empat buah prosedur pengambilan keputusan berikut ini sebagai yang khusus dan berarti:

1.     Keputusan yang Otokratis.
Manajer membuat keputusan sendiri tanpa menanyakan pemdapat atau saran orang lain, dan orang-orang tersebut tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap keputusan itu, tidak ada partisipasi.

2.     Konsultasi.
Manajer menanyakan pendapat atau gagasan, kemudian mengambil keputusannya sendiri setelah mempertimbangkan saran dan perhatian mereka dengan serius.

3.     Keputusan Bersama.
Manajer bertemu dengan orang lain untuk mendiskusikan masalah keputusan tersebut, dan mengambil keputusan bersama;
Manajer tidak mempunyai pengaruh lagi terhadap keputusan terakhir seperti juga partisipasi lainnya;

4.     Pendelegasian.
Manajer memberikan otoritas dan tanggung jawab membuat keputusan kepada seseorang atau kelompok;
Manajer biasanya menyebutkan batas di mana pilihan akhir harus berada, dan persetujuan awal mungkin atau mungkin tidak perlu diminta sebelum keputusan itu dapat diimplementasikan.

Sumber:
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, Edisi Indonesia, Edisi Kelima, Penerbit PT Indeks,   2010, hal 98 – 99.



Materi, 52 Etika dan Filsafat Kepemimpinan, Sifat Kepemimpinan Partisipatif


52 SIFAT KEPEMIMPINAN PARTISIPATIF

Kepemimpinan partisipatif menyangkut penggunaan berbagai macam prosedur keputusab yang member orang lain pengaruh tertentu terhadap keputusan pemimpin tersebut.
Istilah lainnya yang biasa digunakan untuk menyebut aspek kepemimpinan partisipatif mencakup konsultasi, pengambilan keputusan bersama, pembagian kekuasaan, desentralisasi dan manajemen demokratis.
Kepemimpinan partisipatif dapat dianggap sebagai jenis perilaku berbeda, walaupun dapat digunakanbersama dengan perilaku tugas  dan hubungan yang khusus (Likert, 1967, Yulk, 1971).
Sebagai contoh, berkonsultasi dengan para karyawan mengenai rancangan system waktu fleksibel secara simultan dapat melibatkan perencanaan jadwal kerja yang lebih baik dan memperlihatkan perhatian atas kebutuhan karyawan.

Sumber:
Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, Edisi Indonesia, Edisi Kelima, Penerbit PT Indeks,   2010, hal 98.