Selasa, 21 Oktober 2014

Stres Kerja

AL-IKHLAS

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1.       Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa;
2.       Allah tempat meminta segela sesuatu;
3.       (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan;
4.       Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

AL-HADIS

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab ra., dia berkata Saya pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya. Barang siapa berhijrah dengan niat untuk kepentingan duniawi atau untuk mencari perempuan yang akan dikawininya, maka balasan hijrahnya sesuai dengan niatnya.”  (Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, nomor hadis: 1).

STRES KERJA

A.      KEBIJAKAN DAN STRATEGI ADMINISTRASI;
1.       Penyusutan karyawan;
2.       Tekanan kompetitif;
3.       Perencanaan gaji jasa;
4.       Rotasi sift kerja;
5.       Aturan birokrasi;
6.       Teknologi canggih;

B.      STRUKTUR DAN DESAIN ORGANISASI;
1.       Setralisasi dan formalisasi;
2.       Konflik lini-staf;
3.       Spesialisasi;
4.       Ambiguitas peranan dan konflik peranan;
5.       Tidak ada kesempatan untuk maju;
6.       Budaya melarang dan tidak percaya;

C.      PROSES ORGANISASI;
1.       Kontrol kuat;
2.       Hanya komunikasi ke bawah;
3.       Sedikit umpan balik kinerja;
4.       Pengambilan keputusan tersentralisasi;
5.       Kurang partisipasi dalam keputusan;
6.       System penilaian bersifat hukuman;

D.      KONDISI KERJA;
1.       Area kerja ramai;
2.       Bising, panas, atau dingin;
3.       Polusi udara;
4.       Bau yang kuat;
5.       Kondisi tidak aman, berbahaya;
6.       Penerangan kurang;
7.       Tekanan fisik atau mental;
8.       Bahan kimia beracun atauArea kerja ramai;
9.       Bising, panas, atau dingin;
10.   Polusi udara;
11.   Bau yang kuat;
12.   Kondisi tidak aman, berbahaya;
13.   Penerangan kurang;
14.   Tekanan fisik atau mental;
15.   Bahan kimia beracun atau radiasi;


Sumber:
Fred Luthans, 2006, Organizational Behavior, Penerbit Andi, Yogyakarta.


Stres

AL- FATIHAH
1.       Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang;
2.       Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam;
3.       Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang;
4.       Pemilik hari pembalasan;
5.       Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan;
6.       Tunjukanlah kami jalan yang lurus;
7.       (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula) jalan mereka yang sesat.

STRES

Stres biasanya dianggap sebagai istilah negatif.

Stres dianggap disebabkan oleh sesuatu yang buruk (misalnya. Mahasiswa yang terkena sanksi percobaan di kampusnya, orang yang dikasihi menderita sakit parah, teguran formal dari pimpinan atas kinerja yang buruk). Semua hal tersebut adalah bentuk distress (stress yang buruk).

Tetapi, ada juga sisi stres positif dan menyenangkan yang disebabkan oleh hal yang baik (misalnya, mahasiswa membantu membuat tugas dekan, seorang kenalan yang patut diperhitungkan dan menarik mengajak …..; karyawan ditawari promosi kerja di tempat lain). Semua ini adalah bentuk eustres.

Istilah ini diciptakan pelopor penelitian stres dari bahasa Yunani “eu”, yang berarti “baik”.

Diterapkan pada tempat kerja, studi penelitian di Cornell University terhadap 1800 manajer mengidentifikasikan contoh stres “buruk”, seperti kebijakan kantor, prosedur birokrasi, dan karier yang terhambat serta stres “baik” seperti tantangan yang muncul dari tanggung jawab yang meningkat, tekanan waktu, dan tugas berkualitas tinggi.

Gambaran menarik lainnya mencakup dua jenis energy “energy tegang,” adalah keadaan stres yang dikarakteristikan dengan tekanan dan kecemasan konstan, dan “stres tenang,”  adalah stres dengan “aliran” bebas yang dikarakterisasikan dengan sedikit ketegangan otot, keadaan pikiran yang waspada, perasaan badan yang tenang, intelegensi kreatif, vitalitas fisik, dan rasa senang yang meningkat.

Dengan kata lain, stres dapat dipandang dengan cara yang berbeda dan dideskripsikan dengan kata “sin”: “Keduanya adalah kata pendek yang bersifat emosional yang digunakan untuk mengacu pada sesuatu yang perlu dijelaskan dengan banyak kata.”

Meskipun terdapat berbagai definisi dan perdebatan mengenai pengertian stres kerja, Ivancevich dan Matteson mendefinisikan stres sebagai “interaksi individu dengan lingkungannya,” tetapi kemudiam mereka memerinci definisi kerja sebagai berikut: “respon adaptif yang dihubungkan oleh perbedaan eksternal (lingkungan) yang menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik secara berlebihan pada seseorang.

Perhatikan ketiga komponen definisi berikut:
1.       Mengacu pada reaksi terhadap situasi atau kejadian, bukan situasi atau kejadian itu sendiri;
2.       Menekankan bahwa stres dapat dipengaruhi oleh perbedaan individu; dan
3.       Menekankan frasa “kebutuhan psikologi dan atau fisik yang berlebihan,” karena hanya situasi tertentu atau situasi yang tidak biasa (berlawanan dengan penyesuaian hidup minor) yang dapat menghasilkan stres;

Dalam definisi lain, Beehr danNewman mendefinisikan “stres kerja” sebagai kondisi yang muncul dari interaksi antara manusia dan pekerjaan serta dikarakterisasikan oleh perubahan manusia yang memaksa mereka itu menyimpang dari fungsi normal mereka;

Dengan menggunakan dua definisi tersebut, dan menyederhanakannya untuk tujuan bab ini, stres didefinisikan sebagai respons adaptif terhadap situasi ekternal yang menghasilkan penyimpangan fisik, psikologis, dan atau perilaku pada anggota organisasi.

Penting juga untuk menunjukkan bahwa:

1.       Stres bukan hannya masalah kecemasan;
Pada dasarnya, kecemasan terjadi dalam lingkup emosional dan psikologis, sementara stres terjadi dalam lingkup emosional, psikologis, dan juga fisik.

2.       Stres bukan hanya ketegangan saraf;
Seperti kecemasan, ketegangan saraf mungkin dihasilkan oleh stres, tetapi keduanya tidak sama.
Orang yang pingsan menunjukkan stres, dan beberapa orang “mengendalikannya” serta tidak menunjukkannya nelalui ketegangan saraf;

3.       Stres bukan sesuatu yang selalu merusak, buruk, atau dihindari;
Eustres tidak merusak atau buruk.
Tetapi sebaliknya, merupakan sesuatu yang perlu dicari, bukannya dihindari.
Tentu saja kuncinya adalah bagaimana manusia menangani stres.
Stres tidak dapat dielakkan;
Stres dapat dicegah atau dikontrol secara efektif.

Sumber:
Fred Luthans, 2006, Organizational Behavior, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  

  

Penyebab Stres

AL-ANFAL

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu  nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Anfal: 53)

PENYEBAB STRES

Anteseden Stres, atau disebut stressor yang mempengaruhi karyawan.

Stres yang dipengaruhi karyawan dan dari karyawan itu sendiri.

Stres Kerja di dalam Stresor individu;

Stresor individu di dalam Stresor Kelompok;

Stresor Kelompok di dalam Stresor Organisasi;

Stresor Organisasi di dalam Stresor Ekstra Organisasi.

Sumber:
Fred Luthans, 2006, Organizational Behavior, Penerbit Andi, Yogyakarta.