Jumat, 19 September 2014

Filsafat Emmanuel Kant

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.

Renungan: Larangan Bunuh Diri:
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Barang siapa yang terjun dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan dijatuhkan di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang makan racun untuk bunuh diri, maka racun itu akan tetap ditangannya ia akan memakannya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang bunuh diri dengan senjata besi maka besi itu akan tetap ditangannya, ia akan menikam perutnya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya” (Muttafaq Alaih / Al Lu’lu’ wal Marjan, 69, dalam  Ensiklopedi Tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadits, Widya Cahaya, 2009, h. 185).

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.

Dalam mempelajari filsafat, kita memahami ada tiga pembidangan dalam sistematika pemetaan filsafat.

Sebagaimana pertanyaan mendasar yang dikemukakan oleh filsuf besar Immanuel Kant, antara lain:

1.    Apakah yang dapat saya ketahui ?
Bidang ini mempertanyakan batas-batas pengetahuan yang dapat kita peroleh.
Dimanakah letak batas pengetahuan kita itu.
Pembahasan masalah pengetahuan ini merupakan bidang knowledge, yang di dalamnya mencakup bahasan tentang epistimologi, logika, filsafat ilmu pengetahuan, dan metodologi.

2.    Apa yang harus saya lakukan ?
Bagian ini menyangkut soal aksiologi atau ilmu tentang nilai-nilai.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang dihubungkan dengan nilai-nilai atau penilaian.
Pembahasan bidang ini mencakup etika dan estetika.

3.    Apa yang bisa kita harapkan ?
Hal ini mempertanyakan segala yang ada dan mempertanyakan pula eksistensi manusia dn Tuhan dalam hidup ini.
Pembahasan ini merupakan bidang being (tentang ada), yang mencakup ontologdan metafisika.
Hal ini sering kali tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan dan seringkali  bersentuhan dengan bidang religi tentang harapan dan kepercayaan.


Sumber:
Hendra Nurtjahjo, Filsafat Demokrasi, Bumi Aksara Jakarta, 2006, h. 6-7. 

Definisi Filsafat

Definisi Filsafat

Renungan :
Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Sesungguhnya Allah Swt, mengutus malaikat pada rahim ibu, malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, air mani, wahai Tuhanku, segumpal darah, wahai Tuhanku, segumpal daging”. Jika Dia ingin menyempurnakan ciptaan-Nya malaikat berkata: “Laki-laki atau perempuan ? Sengsara atau bahagia ? Dan bagaimana rizki dan ajalnya ?” Lalu diputuskan ketika ia di rahim ibunya” (Muttafag Alaih/Al Lu’lu’ wal Marjan, 1969, dalam Ensiklopedi tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadist, Widya Cahaya, Jakarta, 2009. H. 338)

Dalam bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata, yaitu Philos dan Sophia.
Philos biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang atau cinta.
Sophia diartikan sebagai kebijaksanaan atau kearifan.

Dengan demikian dapat dikatakan “Filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan.

Menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakekat sesuatu.

Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekatnya, fungsinya, cirri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.

Sumber:
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Bumi Aksara,  2008, h. 2


Filsafat Ilmu

FILSAFAT

Renungan
Ibnu Qayyim,ra, memberikan nasehat: “Memanfaatkan waktu lebih berat dari pada memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong Akhirat, ke Surga ataukah ke Neraka….” ( Abu Ihsan al-Atsry & Ummu Ihsan Choiriyah, Panduan Amal Sehari Semalam, Memaknai Setiap Detik Kehidupan Dengan Beramal Shalih, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, 2010, h. 6-7).   

Filsafat Ilmu
Penggunaan terminology filsafat ini mengundang beberapa bahaya di antaranya adalah bila kita memberi materi yang terlalu berbobot filsafati kepada filsafat ilmu ini.

Konkretnya, lebih banyak materi tentang filsafat disbanding materi tentang ilmu, umpamanya pengkajian yang dalam dan luas mengenai berbagai aliran filsafat seperti rasionalisme, empirisme, dan pragmatism, tetapi kurang sekali mengaitkan peranan ketiga aliran filsafat tersebut dalam kegiatan keilmuan.

Filsafat ilmu harus merupakan pengetahuan tentang ilmu yang didekati secara filsafati, dengan tujuan untuk lebih memfungsionalkan ujud keilmuan baik secara intektual, moral, maupun sosial.

Dengan demikian bila pembehasan mengenai materi  filsafat harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat relevan, maka pembahasan mengenai materi keilmuan harus dilakukan selengkap mungkin, meskipun hanya bersifat pokok-pokoknya saja.

Filsafat ilmu harus mencakup bukan saja pembahasan mengenai ilmu itu sendiri beserta segenap perangkatnya, melainkan sekaligus kaitan ilmu dengan berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, kebudayaan, moral, sosial, dan bahkan politik.

Demikian juga pembahasan yang bersifat analitis dari tiap-tiap unsure bahasan harus diletakkan dalam kerangka berfikir secara keseluruhan.

Bukan tubuh-tubuh pohon pengetahuan saja yang ingin kita ketahui melainkan perspektif keseluruhan pohon dalam membentuk hutan keilmuan, itulah yang justru kita tonjolkan.

Harus diusahakan agar filsafat ilmu tidak menjadi suatu hafalan baru, melainkan suatu metode untuk mengoperasionalkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang telah lama dihafal, atau dengan kata lain, agar teori-teori ilmiah yang telah diketahui bisa bersifat lebih fungsional.

Untuk itu makna secara kurikuler pembahasan materi filsafat ilmu harus dikaitkan dengan kegiatan pokok keilmuan.

Salah satu kegiatan pokok keilmuan yang dapat dijadikan titik tolak (point of entry) dalam membahas filsafat ilmu adalah kegiatan penelitian ilmiah.

Disini metodologi penelitian ilmiah dapat berfungsi sebagai kerangka bahasan yang menyeluruh dalam  mengkaji ontology, epistimologi, dan aksiologi ilmu beserta perangkat keilmuan yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika.

Dimulai dengan unsure-unsur kegiatan penelitian ilmiah sebagai kerangka bahasan, maka pendidikan filsafat ilmu diakhiri dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam melakukan penelitian ilmiah serta menggunakan hasil penelitian tersebut ditinjau dari kacamata moral, sosialan aspek-aspek kehidupan lainnya.


Sumber: Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Gramedia, Jakarta, 1986, h. 39-40.