Madinah

.......................

Mekah

.....................

Bertaubatlah

Ajal tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kitalah yang menunggu ajal dengan bertaubat.

ADAB MENUNTUT ILMU

Akan aku jelajahi semua negeri untuk mencari ilmu, atau aku akan mati sebagai orang asing, jika diriku harus mati. Aku tidak menyesal karena ALLAH pasti merahmati aku, Tetapi jika selamat, Aku akan segera kembali.

Selasa, 23 September 2014

CARA ADMINISTRATOR MENGGERAKKAN ADMINISTRASI

CARA ADMINISTRATOR MENGGERAKKAN ADMINISTRASI

1. Mengembangkan Organisasi;
2. Mengembangkan SIM;
3. Mengembangkan Sistem Management;
4. Sistem Operasi.

Sumber: Prajudi Atmosudirdjo, 1985, Dasar-2 Ilmu Administrasi, Penerbit Ghalia Indonesia,  Jakarta


Administrasi Memerlukan Cara Berfikir Modern

ADM. MEMERLUKAN CARA BERFIKIR MODERN

Apa yg kita perbuat hrs masuk akal
                (asas ini disebut RASIONALITAS)
Apa yg kita perbuat hrs memakai perhitungan
                (sarana perhitungan ini disebut KALKULUS)
Apa yg kita perbuat hrs memakai cara yg direncanakan dan dipersiapkan terlebih dahulu
                (cara ini disebut METODE)

Sumber: Prajudi Atmosudirdjo, 1985, Dasar-2 Ilmu Administrasi, Penerbit Ghalia Indonesia,  Jakarta


Jumat, 19 September 2014

Filsafat Emmanuel Kant

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.

Renungan: Larangan Bunuh Diri:
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Barang siapa yang terjun dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan dijatuhkan di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang makan racun untuk bunuh diri, maka racun itu akan tetap ditangannya ia akan memakannya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang bunuh diri dengan senjata besi maka besi itu akan tetap ditangannya, ia akan menikam perutnya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya” (Muttafaq Alaih / Al Lu’lu’ wal Marjan, 69, dalam  Ensiklopedi Tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadits, Widya Cahaya, 2009, h. 185).

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.

Dalam mempelajari filsafat, kita memahami ada tiga pembidangan dalam sistematika pemetaan filsafat.

Sebagaimana pertanyaan mendasar yang dikemukakan oleh filsuf besar Immanuel Kant, antara lain:

1.    Apakah yang dapat saya ketahui ?
Bidang ini mempertanyakan batas-batas pengetahuan yang dapat kita peroleh.
Dimanakah letak batas pengetahuan kita itu.
Pembahasan masalah pengetahuan ini merupakan bidang knowledge, yang di dalamnya mencakup bahasan tentang epistimologi, logika, filsafat ilmu pengetahuan, dan metodologi.

2.    Apa yang harus saya lakukan ?
Bagian ini menyangkut soal aksiologi atau ilmu tentang nilai-nilai.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang dihubungkan dengan nilai-nilai atau penilaian.
Pembahasan bidang ini mencakup etika dan estetika.

3.    Apa yang bisa kita harapkan ?
Hal ini mempertanyakan segala yang ada dan mempertanyakan pula eksistensi manusia dn Tuhan dalam hidup ini.
Pembahasan ini merupakan bidang being (tentang ada), yang mencakup ontologdan metafisika.
Hal ini sering kali tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan dan seringkali  bersentuhan dengan bidang religi tentang harapan dan kepercayaan.


Sumber:
Hendra Nurtjahjo, Filsafat Demokrasi, Bumi Aksara Jakarta, 2006, h. 6-7. 

Definisi Filsafat

Definisi Filsafat

Renungan :
Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Sesungguhnya Allah Swt, mengutus malaikat pada rahim ibu, malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, air mani, wahai Tuhanku, segumpal darah, wahai Tuhanku, segumpal daging”. Jika Dia ingin menyempurnakan ciptaan-Nya malaikat berkata: “Laki-laki atau perempuan ? Sengsara atau bahagia ? Dan bagaimana rizki dan ajalnya ?” Lalu diputuskan ketika ia di rahim ibunya” (Muttafag Alaih/Al Lu’lu’ wal Marjan, 1969, dalam Ensiklopedi tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadist, Widya Cahaya, Jakarta, 2009. H. 338)

Dalam bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata, yaitu Philos dan Sophia.
Philos biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang atau cinta.
Sophia diartikan sebagai kebijaksanaan atau kearifan.

Dengan demikian dapat dikatakan “Filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan.

Menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakekat sesuatu.

Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekatnya, fungsinya, cirri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.

Sumber:
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Bumi Aksara,  2008, h. 2


Filsafat Ilmu

FILSAFAT

Renungan
Ibnu Qayyim,ra, memberikan nasehat: “Memanfaatkan waktu lebih berat dari pada memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong Akhirat, ke Surga ataukah ke Neraka….” ( Abu Ihsan al-Atsry & Ummu Ihsan Choiriyah, Panduan Amal Sehari Semalam, Memaknai Setiap Detik Kehidupan Dengan Beramal Shalih, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, 2010, h. 6-7).   

Filsafat Ilmu
Penggunaan terminology filsafat ini mengundang beberapa bahaya di antaranya adalah bila kita memberi materi yang terlalu berbobot filsafati kepada filsafat ilmu ini.

Konkretnya, lebih banyak materi tentang filsafat disbanding materi tentang ilmu, umpamanya pengkajian yang dalam dan luas mengenai berbagai aliran filsafat seperti rasionalisme, empirisme, dan pragmatism, tetapi kurang sekali mengaitkan peranan ketiga aliran filsafat tersebut dalam kegiatan keilmuan.

Filsafat ilmu harus merupakan pengetahuan tentang ilmu yang didekati secara filsafati, dengan tujuan untuk lebih memfungsionalkan ujud keilmuan baik secara intektual, moral, maupun sosial.

Dengan demikian bila pembehasan mengenai materi  filsafat harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat relevan, maka pembahasan mengenai materi keilmuan harus dilakukan selengkap mungkin, meskipun hanya bersifat pokok-pokoknya saja.

Filsafat ilmu harus mencakup bukan saja pembahasan mengenai ilmu itu sendiri beserta segenap perangkatnya, melainkan sekaligus kaitan ilmu dengan berbagai aspek kehidupan seperti pendidikan, kebudayaan, moral, sosial, dan bahkan politik.

Demikian juga pembahasan yang bersifat analitis dari tiap-tiap unsure bahasan harus diletakkan dalam kerangka berfikir secara keseluruhan.

Bukan tubuh-tubuh pohon pengetahuan saja yang ingin kita ketahui melainkan perspektif keseluruhan pohon dalam membentuk hutan keilmuan, itulah yang justru kita tonjolkan.

Harus diusahakan agar filsafat ilmu tidak menjadi suatu hafalan baru, melainkan suatu metode untuk mengoperasionalkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang telah lama dihafal, atau dengan kata lain, agar teori-teori ilmiah yang telah diketahui bisa bersifat lebih fungsional.

Untuk itu makna secara kurikuler pembahasan materi filsafat ilmu harus dikaitkan dengan kegiatan pokok keilmuan.

Salah satu kegiatan pokok keilmuan yang dapat dijadikan titik tolak (point of entry) dalam membahas filsafat ilmu adalah kegiatan penelitian ilmiah.

Disini metodologi penelitian ilmiah dapat berfungsi sebagai kerangka bahasan yang menyeluruh dalam  mengkaji ontology, epistimologi, dan aksiologi ilmu beserta perangkat keilmuan yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika.

Dimulai dengan unsure-unsur kegiatan penelitian ilmiah sebagai kerangka bahasan, maka pendidikan filsafat ilmu diakhiri dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan dalam melakukan penelitian ilmiah serta menggunakan hasil penelitian tersebut ditinjau dari kacamata moral, sosialan aspek-aspek kehidupan lainnya.


Sumber: Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Perspektif Moral, Sosial dan Politik, Gramedia, Jakarta, 1986, h. 39-40. 

Melintas Jalan Setapak Di Tengah Rimba Teori

MELINTAS JALAN SETAPAK DI TENGAH RIMBA

Teori social juga tak pernah berdiri sendiri, kerangka pemikiran yang utuh diterima oleh setiap orang dalam disiplin itu dan menerapkannya dalam melaksanakan dan menginterpretasikan penlitian.

Teori social selalu mendapat masukan dari berbagai ide dari luar disiplin ilmu social sendiri, khususnya dari berbagai tradisi filosofis yang berbeda, dan dalam menanggapi berbagai masalah teoritis baik secara langsung maupun tidak langsung diwarnai konflik politik, para penulis berpaling kepada tradisi-tradisi yang sedemikian beraneka ragam.

Sumber:
IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta.


Pendekatan Tradisional dalam Teori

PENDEKATAN TRADISIONAL

Salah satu cara tradisional dalam membagi teori-teori social adalah dengan melakukan perbedaan (distingsi) antara teori-teori “holistic” dan teori-teori “individualistik”.

Yang pertama;
Memulai (pengamatan) dengan “masyarakat” sebagai suatu kesatuan (unit analisa), memandang masyarakat sebagai sesuatu yang lebih dari pada sekedar totalitas individu yang membentuknya.

Karena itu tindakan-tindakan individu dalam beberapa hal ditentukan oleh masyarakat di mana yang bersangkutan menjadi salah satu bagiannya.

Pandangan kedua;
Memulai dari individu-individu dan melibatkan masyarakat sebagai hasil dari tindakan-tindakan individu.

Ada juga yang berpendapat bahwa kedua prose situ terjadi pada saat yang bersamaan: individu-individu membentuk masyarakat dan masyarakat membentuk individu.

Sumber:
IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta.


HAKEKAT TEORI

Setiap teori ilmiah menciptakan dunianya sendiri mengenai “objek-objek teoritis” dan dia mengatakan bahwa salah satu dari ciri-ciri yang menentukan dari suatu ilmu pengetahuan adalah bahwa ilmu itu menghasilkan sebuah dunia mengenai obek-objek teoritis berbeda dari dunia yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi suatu dunia yang dilihat oleh kaum ilmiawan di dalam karya ilmiahnya itu.

Persoalan yang muncul dengan pendekatan ini ialah, bahwa setiap teori menciptakan dunianya sendiri, kita tidak bias menemukan “dunia yang sesungguhnya” di luar teori yang bias menguji teori-teori kita sendiri.

Dengan kata lain, kita tidak bias menilai antara teori yang satu dengan yang lain, masing-masing teori memiliki dunianya sendiri dan barangkali benar untuk dunia yang khusus itu.

Sumber:
IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta.