Madinah

.......................

Mekah

.....................

Bertaubatlah

Ajal tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kitalah yang menunggu ajal dengan bertaubat.

ADAB MENUNTUT ILMU

Akan aku jelajahi semua negeri untuk mencari ilmu, atau aku akan mati sebagai orang asing, jika diriku harus mati. Aku tidak menyesal karena ALLAH pasti merahmati aku, Tetapi jika selamat, Aku akan segera kembali.

Jumat, 19 September 2014

FILSAFAT ADALAH


Filsafat adalah memperlakukannya sebagai suatu jenis teori tentang teori, dank arena semata-mata karena teori itu ia lebih abstrak, hal-hal tertentu muncul secara lebih jelas dan sederhana.

Filsafat ilmu pengetahuan social melibatkan dirinya dalam dua isu:

Pertama, hakekat dunia, apa hakekat dari semua hal yang ada (di dunia) ini dan adakah perbedaan dari keberadaannya.

Misalnya, apakah keberdaan manusia sama dengan keberadaan obyek-obyek tak bernyawa dan kalau tidak di mana letak perbedaannya ?

Hal-hal ini dapat digolongkan sebagai pertanyaan-pertanyaan Ontologism dan anda mungkin berfikir, dengan pembenaran tertentu.

Kedua, filsafat ilmu tertuju pada hakekat suatu penjelasan: metode-metode apa yang harus digunakan untuk membedah suatu penjelasan, struktur logis apa yang harus dimiliki, bukti-bukti apa yang diperlukan.

Semua ini merupakan pertanyaan-pertanyaan Epistemologis – mengenai cara mengetahui pengetahuan sebagai pengetahuan.

Sumber:
IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta.



BERFIKIR TEORITIS


Problem yang menuntun orang kepada teori adalah masalah-masalah yang kita semua hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Saya kira benar bahwa kita semua berfikir secara teoritis, tetapi dalam cara yang sering tidak kita sadari.

Apa yang tidak biasa bagi kita adalah berfikir secara teoritis dalam suatu cara sistematis, dengan semua rintangan yang bermacam-macam, dengan semua keterbatasan dan kekakuan yang terkandung di dalamnya.

Kalau kita sungguh-sungguh berfikir seperti itu, maka pada mulanya hal itu terasa asing bagi kita.

Lalu apa yang merupakan masalah dalam menghadapi keadaan kita yang terbiasa berfikir secara teoritis tapi dalam cara yang tanpa kita sadari itu ?

Kebanyakan kita dalam hal tertentu dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berada di luar control kita dan yang tidak serta-merta jelas.

Beberapa diantaranya yang tidak terduga-duga, ada yang mula-mula terjadi perlahan-lahan dan dalam cara yang kurang disadari.

Teori adalah suatu usaha untuk menjelaskan pengalaman sehari-hari kita mengenai dunia, pengalaman kita yang “terdekat”, dalam kaitannya dengan sesuatu yang tidak begitu dekat- apakah itu tindakan orang lain, pengalaman masa lalu kita, emosi-emosi kita yang tertekan atau apa saja.

Kadang-kadang dan ini yang barang kali paling sulit, penjelasan itu berkaitan dengan sesuatu yang tidak kita miliki dan tidak dapat mempunyai pengalaman langsung sama sekali, tapi justru pada tingkat inilah teori itu menceritakan sesuatu yang baru tentang dunia kepada kita.

Hal ini akan menjadi semakin jelas kalau kita menemukan pemikiran teoritis sehari-hari ini secara lebih dekat.

Teori social dibuatkan untuk maksud-maksud yang sama, yakni untuk menerangkan dan memahami pengalaman pada basis dari pengalaman-pengalaman lain dan ide-ide umum mengenai dunia.

Teori social berusaha untuk bersifat lebih sistemtis baik mengenai pengalaman maupun ide-ide.

Sumber:
IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta.

   

Apa yang terjadi dalam teori dan mengapa kita masih membutuhkannya

APA YANG TERJADI DALAM TEORI
DAN
MENGAPA KITA MASIH MEMBUTUHKANNYA.

Kata teori nampaknya kadang-kadang menakutkan orang dan hal itu bukannya tanpa alas an yang baik.

Banyak teori social modern tidak dapat dimengerti, bersifat dangkal bahkan tidak bermakna.

Pembaca tidak merasa bahwa dia sedang mempelajari sesuatu yang baru atau sesuatu apapun, tidak ada yang betul-2 mencengangkan.

Sedikit sekali orang yang merasa betah dengan teori atau menggunakannya dalam suatu cara yang produktif.

Pada saat yang sama teori terus bertambah dan berlipat ganda.

Kadang-kadang nampaknya hal ini merupakan akibat suatu perkembangan pesat masyarakat yang membiarkan para anggotanya untuk memperoleh pendapatan yang semakin meningkat dari berbagai persaingan yang ruwet.

Keberadaan teori bukanlah semata-mata karena kegemaran pribadi para teoritikus sendiri.

Tentu saja masalah-2 yang mendorong orang untuk berteori bukan milik penelitian sosiologis semata, semuanya merupakan masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-2.

Sumber:

IAN CRAIB, 1986, Teori-Teori Sosial Modern, dari Parsons sampai Habermas, Penerbit CV. Rajawali Pers, Jakarta, hlm 3-4.

REFORMASI ADMINISTRASI

Reformasi administrasi mulai diwacanakan sejak 1960-an pada saat masih menjadi bagian dari teori administrasi publik dan organisasi.

Reformasi administrasi baru menjadi disiplin ilmu tersendiri pada tahun 1980-an (Caiden, 1991:vii).

Di Negara-negara Asia Pasifik, reformasi adminitrasi telah menjadi agenda penting sejak tahun 1970-an.

Adanya gelombang perbaikan social, ekonomi, dan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik, pemerintah di Negara-negara Asia Pasifik mengambil langkah-langkah dalam rangka reformasi untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan responsivitas dalam system administrasi mereka (Guzman and Reforma, 1992:2).

Administrasi untuk pembangunan menadji penting sejak Word Bank, 1983).

Konfirmasi ini sangat penting berkenaan dengan manajemen di dalam sector publik yang terjadi saat itu ketika paradigm ekenomi menekan efisiensi dan efektivitas pasar.

Ketidak puasan dan kegagalan bukan persoalan yang disebabkan oleh pemilihan kebijakan yang tidak tepat, melainkan juga karena institusi pemerintah melakukan pekerjaan dengan kualitas yang rendah.

Organisasi publik yang didorong untuk menjadi besar dan meningkat justru menjadi hamabatan pembangunan dan membuat orgabnisasi tersebut menjadi lebih mahal.

Organisasi perlu menjadi lebih efeisien, efektif, dan menghasilkan uang.

Manajemen sector publik memerlukan penyegaran dan perlu mendesain kembali komponen vital dari strategi –strategi untuk menyehatkan Negara.

Oleh karena itu, reformasi adminitrasi adalah cara universal untuk membawa perubahan pada sector publik.
Negara tidak dapat lagi dipercaya, kecuali melakukan reformasi adminitrasi (Turner dan Hulme, 1997: 105-106).

Perhatian utama reformasi administrasi dari sisi organisasi terutama difokuskan dalam pencapaian tujuan, target, kebijaksanaan, ukuran bentuk, struktur, konsentrasi, dan sebagainya. Sementara itu dari sisi individu lebih dititik beratkan pada hak, kewajiban, loyalitas, ambisi, harapan, kreativitas, dal lain-lain (Caiden, 1991: 97-100).

Sumber:
Chaizi Nasucha, 2004, Reformasi Administrasi Publik, Teori dan Praktik, PT Grasindo, Jakarta, hlm. 41-42.



DEFINISI REFORMASI ADMINISTRASI


Definisi reformasi administrasi sangat luas karena adanya berbagai macam aktivitas terlibat di dalamnya.
Caiden, 1969:69, menyebutkan bahwa pembaharuan administrasi digambarkan sebagai suatu rangsangan terhadap transformasi administrasi.

Reformasi administrasi juga mengandung arti sebagai penggunaan kekuasaan dan pengaruh untuk menerapkan ukuran-ukuran baru pada suatu system administrasi guna mengubah tujuan, struktur ataupun prosedur dengan maksud meningkatkannya untuk maksud-maksud pembangunan.

Perubahan atau inovasi secara sengaja dibuat dan diterapkan untuk menjadikan system administrasi tersebut sebagai suatu agen perubahan social yang lebih efektif dan sebagi suatu instrument yang dapat lebih menjamin adanya persamaan politik, keadilan social, dan pertumbuhan ekonomi yang kesemuanya diperlukan dalam proses pemacuan pembangunan dan pembentukan bangsa (Lee dan Samonte, 1970: 288).

Usaha-usaha yang memacu atau membawa perubahan besar dalam system birokrasi Negara yang dimaksudkan untuk mentransformasikan praktik, perilaku, dan struktur yang telah ada sebelumnya (Khan, 1981: 7).

Reformasi administrasi publik merupakan suatu proses untuk mengubah struktur ataupun prosedur birokrasi publik yang terlibat dengan maksud untuk meningkatkan efektivitas organisasi dan mencapai tujuan pembangunan nasional (Quah, 1976: 58).

Siagian, 1993:135, menyebutkan bahwa pembaharuan administrasi adalah suatu  usaha untuk menrapkan ide-ide baru dan kombinasi ide-ide baru dalam sistem administrasi dengan kesadarn untuk memperbaiki sistem tersebut sebagai usaha pencapaian tujuan pembangunan nasional secara positif.

Administrasi berhubungan dengan pengambilan keputusan, perumusan kebijaksanaan, dan pengendalian untuk mencapai tujuan. Secara implicit manajemen termasuk tugas administrasi (Lepawsky, 1985: 38).

Reformasi administrasi sebagi terminologi, di Inggris dan Negara demokrasi liberal lainnya, berarti sebuah proses dalam pelayanan publik untuk membuat perubahan-perubahan di dalam organisasi atau prosedur membuat perubahan-perubahan di dalam organisasi atau prosedur administrasi publik (Caiden dan Siedentopf, 1982: 67).

Caiden (1969: 57-65) membedakan secara tegas reformasi administrasi (administrative reform) dengan perubahan administrasi (administrative change).

Reformasi administrasi muncul sebagai akibat tidak berfungsinya perubahan administrasi secara alamiah, sementara perubahan administrasi lebih bersifat respon organisasi yang bersifat otomatis terhadap perubahan lingkungan.

Disamping perbedaan itu, ada elemen yang umum di dalam berbagai definisi.
1.       Reformasi administrasi merupakan rencana yang hati-hati untuk mengubah birokrasi publik;
2.       Reformasi administrasi bersinonim dengan inovasi;
3.       Efisiensi dan efektivitas dari pelayanan publik adalah hasil dari proses reformasi;
4.       Mendesaknya reformasi dijustifikasi sebagai kebutuhan untuk memecahkan ketidak pastian dan perubahan yang cepat dalam sebuah lingkungan organisasi;

Sumber:
Chaizi Nasucha, 2004, Reformasi Administrasi Publik, Teori dan Praktik, PT Grasindo, Jakarta, hlm. 43-44.




  

Objek Materia Filsafat Administrasi


           Obyek Materia;

           Obyek material filsafat administrasi adalah manusia dalam suatu kerjasama;

           Obyek material ini adalah juga menjadi objek material dari filsafat keilmuan lainnya, seperti:
a.       Filsafat pemerintahan yaitu manusia bekerja sama (pemerintah dengan yang diperintah) yang berlangsung dalam hubungan pemerintah dengan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara yang berkedaulatan rakyat;
b.      Filsafat politik yaitu manusia bekerja sama dalam hubungan kekuasaan sebagaimana hubungan pemerintah dalam memaksakan kehendaknya pada rakyat untuk membayar pajak;
c.       Filsafat sosiologi yaitu manusia bekerja sama dalam kehidupan berkelompok sebagaimana hubungan manusia selaku individu dengan individu lainnya dalam kehidupan masyarakat;
d.      Filsafat ekonomi yaitu manusia bekerja sama dalam pemenuhan kebutuhan secara fungsional sebagaimana penjual dengan pembeli;
e.      Filsafat hukum yaitu manusia bekerja sama dalam penciptaan keadilan melalui penegakan norma-norma yang berlaku, seperti hubungan penegak hukum dengan para subyek hukum dalam lapangan hukum publik atau hubungan antara para subyek hokum dalam lapangan hukum privat dan seterusnya dalam kerjasama-kerjasama lainnya;

Dalam pengkajian hubungan-hubungan yang berlangsung dalam kerjasama masing-masing keilmuan disebutkan di atas tentunya dilakukan berdasarkan kajian-kajian filsafat keilmuan masing-masing.

Bagi filsafat administrasi, kerjasama manusia berlangsung didasrkan pada pertimbangan rasio dalam rangka pencapaian tujuan secara bersama.

Dalam rangka kerjasama itulah manusia dalam hubungan dengan manusia dilakukan pengkajian secara filsafat.

            Sumber:
            Faried Ali, 2004, Filsafat Administrasi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. 

Objek Forma Filsafat Administrasi

OBJEK FORMA FILSAFAT ADMINISTRASI

Obyek forma filsafat administrasi adalah keteraturan, pengaturan, atau dalam lingkup yang luas yaitu administration (Inggris) atau beheren atau bestuur (Belanda) yang berarti “pemerintah, pemerintahan” yang kesemuanya sebagai hasil dari pendekatan yang digunakan.

Artinya, dengan pendekatan yang digunakan, akan memberi batas terhadap apa yang menjadi objek materia dari filsafat yang dikaji.

Pendekatan atau yang menjadi pembatas inilah yang menempatkan perbedaan suatu kajian filsafat tertentu.

Keteraturan, pengaturan, kepemerintahan sebagai obyek forma filsafat administrasi secara substansial atau secara esensial akan nampak pada hubungan pengatur dengan pihak yang diatur, baik itu dalam konteks internal kerjasama yang berlangsung maupun secara eksternalberlangsung antara individu sebagai manusia subyek administrasi dengan individu dalam kehidupan yang lebih luas, apakah dalam realitas kehidupan kelompok kecil hingga pada kehidupan masyarakat, bahkan negara sekalipun sebagai objek yang harus dilayani, diayomi dan diberdayakan oleh para subyek administrasi.

Dalam artian yang lebih luas dan mendalam, esensi keteraturan dalam administrasi akan Nampak pada hubungan pemerintahan yang berlangsung secara fungsional yang diciptakan oleh para subjek administrasi sebagai pemerintah dengan para subjek yang diatur sebagai pihak yang diperintah.

Bagaimana hubungan itu berlangsung melalui: filsafat administrasi, kita akan memahaminya lewat hubungan pengaturan, yaitu hubungan pemerintahan.

Dalam rangka pemahaman itulah maka akan banyak ditemukan berbagai hal yang berkaitan dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan secara filosofis, mulai dari persoalan gejala (fenomena) administrasi, normative administrasi hingga pada probabilistic administrasi.

Sumber:
Faried Ali, 2004, Filsafat Administrasi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

  

Sabtu, 28 Juni 2014

JATI DIRI YANG HILANG



JATI DIRI YANG HILANG
(LOSS OF IDENTITY)

Mengukur derajad kompetensi Mahasiswa ditentukan oleh standart implementasi rasionalitas ilmu dan pengetahuan dalam atau pasca proses belajar dan mengajar, yang terimplementasi secara akuntabel dan professional ilmu yang ditekuni, dengan tidak meninggalkan attitude, dan yang terdemensi pada stereotype dalam wujud: cipta, rasa dan karsa masyarakat kampus atau masyarakat ilmiah.

Adapun kualitas atau derajad kompetensi dapat mencapai power full,  satu diantaranya ditentukan oleh personal ideals perfect, dalam kondisi ini siapapan appreciated, sehingga rasionalitas publik membenarkan stereotype pada masyarakat ilmiah yang bernama mahasiswa dan dosen serta pendukungnya. Jadi rasionalitas mahasiswa bukan berhenti pada tajamnya pemikiran (sharpness of thought) namun sudah pada tataran actuating bersamaan dengan skill dan attitude.

Pertanyaan yang datang, bagaimana dengan kasus “hilangnya jati diri mahasiswa” ?

Kalau memperhatikan analisis singkat konsep tersebut di atas dan kita bawa pada kasus yang diajukan pada pertanyaan tersebut, maka untuk menjawabnya perlu didukung data hasil survey, sekalipun dengan metode/instrument yang paling sederhana, yaitu obeservasi.

Mari kita coba membuktikan hallo effect hasil observasi, contoh sederhana di lingkungan kita masih dijumpai bekas kaki sepatu dan corat coret yang nempel pada dinding, puntung rokok dibuang berserakan di mana-mana, meludah dan membuang sampah disembarang tempat tidak menjadi beban, buang air kecil/besar tidak disentor, berpakaian untuk mengejar mode dan kurang pantas disebut cendekiawan, belajar atau mengajar sambil merokok (termasuk ditempat umum) dengan alasan pikiran tidak cair atau tidak mood atau tidak gaul, tatap muka dalam proses belajar dan mengajar kurang penting, yang penting absen, kurang tanggap pada layanan publik atau prima, padahal jelas sudah terpasang (3-S) Senyum, Salam, Sapa, dan hasilnya kita dapat justifikasi, misalkan itu adalah ulah mahasiswa atau dosen dan karyawan, maka rebble hypothesis sudah menjawab iya, padahal belum sampai ranah pembuktian ilmiah, dan bukan hanya fakta tetapi data.

Jadi yang hilangnya jati diri lebih banyak dipengaruhi oleh implementasi standar Etika yang mampu membedakan yang Salah dan Benar, dengan Filosofis (Cinta pada kebijaksanaan).

Sekarang mari kita uji yang paling sederhana ada pepatah “Guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari”. Jadi dengan kasus dan data ini maka halo effect bukan saja ada pada Mahasiswa, tetapi penyebar virus arrogant, apatic lebih besar dipengaruhi oleh perilaku dan sikap dosen, dengan kata lain hilangnya jati diri mahasiswa, dipengaruhi oleh hilangnya jati diri dosen serta karyawan, bahkan lebih dari itu dosenlah yang kehilangan jati diri terlebih dahulu atau dosenlah yang menghilangkan jati diri mahasiswanya, naudubilahimindalik.

Maaf ya jangan ada yang tersinggung karena bukan maksud menyinggung, dan jangan tertawa karena bukan lelucon, dan jangan sakit hati karena ini bukan olokkan. Mari kita masing-masing instruspeksi diri dan kembali kepada komitmen kita, sebagai masyarakat ilmiah (dosen, Mahasiswa dan Tenaga Kependidikan), dengan Ibu Asuh yang bijaksana yaitu Almamater, pada visi Kerakyatan dan Kompeten. Amin. Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, Sugeng Rusmiwari, Malang, 30 Sya’ban 1435, bertepatan dengan 28 Juni 2014.