6 TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Semua penelitian bersifat ilmiah,
oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori.
Dalam penelitian kuantitatif:
Teori yang digunakan harus sudah
jelas, karena teori di sini akan berfungsi untuk menjelaskan masalah yang
diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk
menyusun instrument penelitian.
Oleh karena itu landasan teori
dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan
dipakai.
Teori dalam penelitian
kuantitatif bersifat menguji hipotesis.
Jumlah teori yang digunakan
disesuaikan dengan jumlah variable yang diteliti
Dalam penelitian kualitatif:
Karena permasalahan yang dibawa
oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam
penyusunan proposal penelitian kualitatif juga masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah
peneliti memasuki lapangan atau konteks sosial.
Teori dalam penelitian
kualitatif bersifat menemukan teori.
Jumlah teori yang digunakan
bersifat holistic, jumlah teori yang harus dimiliki oleh peneliti jauh lebih
banyak karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan.
Peneliti kualitatif akan lebih
professional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya akan menjadi lebih
luas, dan dapat menjadi instrument penelitian yang baik.
Teori bagi peneliti kualitatif
akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks sosial secara lebih
luas dan mendalam.
Walaupun peneliti kualitatif
dituntut untuk menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakan
penelitian kualitatif, peneliti kualitatif harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan
sebagai panduan untuk menyusun instrument dan sebagai panduan untuk wawancara,
dan observasi.
Peneliti kualitatif dituntut
dapat menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dirasakan, dan dilakukan
oleh partisipan atau sumber data.
Peneliti kualitatif harus
bersifat “perspektif emic” artinya
memperoleh data bukan “sebagai mana seharusnya”, bukan berdasarkan apa yang
difikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, yang
dialami, dirasakan, dan difikirkan oelh partisipan / sumber data.
Oleh karena itu penelitian
kualitatif JAUH LEBIH SULIT dari penelitian kuantitatif, karena peneliti
kualitatif harus berbekan teori yang luas sehingga mampu menjadi “human
instrument” yang baik.
Untuk menjadi instrument
penelitian yang baik, peneliti kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan yang
luas, baik wawasan teoritis maupun wawasan yang terkait dengan konteks sosial
yang diteliti yang berupa nilai, budaya, keyakinan, hokum, adat istiadat yang
terjadi dan berkembang pada konteks sosial
tersebut.
Bila peneliti tidak memiliki
wawasan yang luas, maka peneliti akan
sulit membuka pertanyaan kepada sumber data, sulit memahmi apa yang terjadi,
tidak akan dapat melakukan analisis secara induktif terhadap data yang
diperoleh.
Peneliti kaulitatif dituntut
mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca.
Landasan teori yang ditulis dalam
proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti
memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun masih
permasalahan
Bahan Bacaan:
Sugiyono, Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung, 2011, hlm. 213-214.




