Madinah

.......................

Mekah

.....................

Bertaubatlah

Ajal tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kitalah yang menunggu ajal dengan bertaubat.

ADAB MENUNTUT ILMU

Akan aku jelajahi semua negeri untuk mencari ilmu, atau aku akan mati sebagai orang asing, jika diriku harus mati. Aku tidak menyesal karena ALLAH pasti merahmati aku, Tetapi jika selamat, Aku akan segera kembali.

Rabu, 18 Januari 2012

Niat Yang Ikhlas

NIAT YANG IKHLAS

Assalamu’alaikum.
Sudahkan Bapak, Ibu, Saudara, memasang niat untuk mengerjakan Amal Shaleh hari ini ?

Mau hidup sempurna dalam Agama, mari kita niatkan Ikhlas, karena Ikhlas adalah derajad yang tinggi serta sebagai syarat diterimanya amal ibadah kita di sisi Allah, Swt.

Apa Ikhlas itu?
Ikhlas artinya menetapkan tujuan dengan memasang niat kegiatan yang akan dilaksanakan sebelum mengerjakannya, dengan mengharap Ridho Allah semata.
Rasulullah Saw, bersabda (yang artinya saja): “Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan” (HR. Al- Bukhari dan Al-Muslim).

Untuk itu sangat besar pengaruh Niat terhadap Amal Perbuatan Kita, ‘Abdullah bin al-Mubaarak, ra, mengatakan (yang artinya saja) “Berapa banyak amal besar yang menjadi kecil nilainya karena niat. Dan berapa banyak amal kecil yang menjadi besar nilainya karena niat” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam , dalam Abu Ihsan al-Atsary & Ummu Ihsan Choiriyah, Panduan Amal Sehari Semalam, Pustaka Darul Ilmi, 2010, h. 13).

Sebuah amal yang terlihat oleh kita begitu besar seperti Pergi Haji, atau menyedekahkan  harta dalam jumlah yang besar, bisa saja tidak bernilai di sisi Allah, karena niatnya yang tidak Ikhlas.
Sebaliknya amal yang terlihat oleh kita sepele, misalkan menyingkirkan duri atau batu dari jalan atau sekedar memberikan senyum manis dan salam dengan niat dan ikhlas saat bertemu kolega, teman atau saudara, bisa saja sangat bernilai di sisi Allah.

Ingat Sabda Rasulullah Saw, ini, yang artinya saja “Sesungguhnya aku melihat seseorang lelaki yang mondar mandir di dalam Surga disebabkan sebatang pohon yang ia singkirkan dari tengah jalan yang mengganggu manusia” (HR. Muslim 6837, dari Abu Hurairah).

Untuk itu sudah selayaknya kita niatkan secara ikhlas perbuatan kita sehari-hari, yang Insya’allah akan berpengaruh luar biasa pada diri kita lebih-lebih untuk kepentingan kehidupan di akhirat sebagai tujuan kita nanti. Amien.

Anas ra. meriwayatkan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau bersabda (yang artinya saja) “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, Allah akan memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk dan hina. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, Allah akan jadikan urusannya berantakan, dan ia tidak akan memperoleh dunia kecuali apa-apa yang telah ditetapkan baginya”  (HR. At-Tirmidzi, Ahmadd dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah , 949).  

Abdullah bin Abbas ra, meriwayatkan dari Rasulullah Saw, dari Rabb-Nya “Sesungguhnya Allah menulis setiap kebaikan dan kejelekan, lantas Dia menjelaskan, “Barang siapa berniat melakukan sebuah kebaikan namun ia tidak jadi melaksanakannya maka Allah telah menulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila ia melaksanakan maka Allah akan tulis untuknya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan, atau dilipat gandakan lebih dari itu. Dan barang siapa yang berniat melakukan kejahatan namun ia tidak jadi melakukannya maka Allah tulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila perbuatan itu jadi ia lakukan maka Allah menuliskan untuknya satu dosa kejahatan (HR. Al-Bukhari [6491] dan Muslim [131]).

Dan Allah Swt, berfirman dalam QS, Al-Qiyammah, 14-15, yang artinya saja “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya”.

Maka mari kita jangan memandang kecil suatu kebaikan kecil yang bernilai di tengah-tengah manusia, dan mari kita amalkan sabda Rasullah Saw, ini, yang artinya saja “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lannya” (Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam ilsilah Shahihah, 426).

Demikian semoga bermanfaat, dan maaf bilamana ada kesalahan, selamat berniat ikhlas dalam berperilaku untuk amal ibadah.
Wassalamu’alaikum.

Hamba Allah.

Selasa, 10 Januari 2012

Tugas Akhir Semt. Etika dan Fil. Adm. Neg



TUGAS AKHIR SEMESTER GANJIL 2011/2012

Mata Kuliah      :  Etika dan Filsafat Administrasi Negara
Dosen              :  Sugeng Rusmiwari

1.     Menurut Bertens (1999:6) etika adalah nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Tugas:
a.     Jelaskan singkat makna konsep tersebut di atas.
b.    Sebagai calon Leader, adakah kelemahan atau kelebihan atas konsep tersebut ? Kritisi !
c.     Lalu apa hakekat Etika Administrasi Negara itu ?

2.     Bilamana Filsafat diartikan dari 2 (dua) suku kata, yaitu Philos diterjemahkan dengan gemar, senang atau cinta, dan Sophia diartikan sebagai kebijaksanaan atau kearifan.
Tugas:
a.     Bagaimana implementasi konsep ini dalam kehidupan sehari-hari, dengan asumsi saudara sebagai (calon) agent of change and development.
b.    Untuk meningkatkan kompetensi, melalui pendekatan filsafat maka perlu menjawab pertanyaan:
1.     Apa yang dapat saya ketahui ?
2.     Apa yang harus saya lakukan ?
3.     Apa yang bisa kita harapkan ?      Jelaskan singkat !

3.     Birokrasi  yaitu sarana bagi pemerintah yang berkuasa untuk melaksanakan pelayanan publik sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Tugas:
a.     Jelaskan singkat mengapa Pelayanan Publik menjadi titik sentral reformasi,  Indonesia menuju pada praktik Good Governance ?
b.    Ciri pokok birokrasi yang mana yang paling efektif, efisien dan rasional menuju Good Governance ?

4.     Organisasi adalah suatu bentuk kerja sama antara sekelompok orang-orang berdasarkan suatu perjanjian untuk bekerjasama guna mencapai suatu tujuan bersama yang tertentu. (Prajudi Atmosudirdjo, Dasar-dasar Ilmu Administrasi, Ghalia Indonesia, 1986, h. 133).
Tugas:
a.     Sebut dan jelaskan singkat unsur-unsurnya !
b.    Bagaimana hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lain, hingga terwujud good organization ?

5.     Bilamana kita ingin mengenal kepemimpinan (Leadership), maka kita perlu mengenal juga Leader, Follower and Situation, hingga menimbulkan 3 (tiga) titik ekstrim style leadership.
Tugas:
a.     Jelaskan makna konsep tersebut di atas !
b.    Sebut dan jelaskan titik ekstrim tersebut !
c.     Titik ekstrim mana yang paling efektif, dan apa alasan saudara, jelaskan singkat!

6.     Bagaimanapun wujud akhir dari seorang leader, harus mengambil keputusan dengan bijaksana / kebijakan publik, dalam menjalankan roda pembangunan:
Tugas:
a.     Jelaskan singkat makna konsep tersebut di atas !
b.    Sifat keputusan yang bagaimanakah yang memenuhi keputusan yang bijaksana / kebijakan publik, jelaskan singkat !

Keterangan:
1.     Hasil ujian dikumpulkan pada saat UAS, yang sebelumnya telah dimasukkan pada Blogg masing-masing.
2.     Berkas yang diterima dosen adalah print out dari Blogg, dilampirkan usulan nilai.
3.     Dan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan, pada saat ujian/hari H ada satu soal yang dikerjakan di tempat ujian.

Senin, 09 Januari 2012

Filsafat Emmanuel Kant


FILSAFAT  EMMANUEL KANT.

Sugeng Rusmiwari
Fisip Unitri Malang

Renungan: Larangan Bunuh Diri:
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Barang siapa yang terjun dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan dijatuhkan di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang makan racun untuk bunuh diri, maka racun itu akan tetap ditangannya ia akan memakannya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang bunuh diri dengan senjata besi maka besi itu akan tetap ditangannya, ia akan menikam perutnya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya” (Muttafaq Alaih / Al Lu’lu’ wal Marjan, 69, dalam  Ensiklopedi Tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadits, Widya Cahaya, 2009, h. 185).

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.
Dalam mempelajari filsafat, kita memahami ada tiga pembidangan dalam sistematika pemetaan filsafat.
Sebagaimana pertanyaan mendasar yang dikemukakan oleh filsuf besar Immanuel Kant, antara lain:
1.       Apakah yang dapat saya ketahui ?
Bidang ini mempertanyakan batas-batas pengetahuan yang dapat kita peroleh.
Dimanakah letak batas pengetahuan kita itu.
Pembahasan masalah pengetahuan ini merupakan bidang knowledge, yang di dalamnya mencakup bahasan tentang epistimologi, logika, filsafat ilmu pengetahuan, dan metodologi.
2.       Apa yang harus saya lakukan ?
Bagian ini menyangkut soal aksiologi atau ilmu tentang nilai-nilai.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang dihubungkan dengan nilai-nilai atau penilaian.
Pembahasan bidang ini mencakup etika dan estetika.
3.       Apa yang bias kita harapkan ?
Hal ini mempertanyakan segala yang ada dan mempertanyakan pula eksistensi manusia dn Tuhan dalam hidup ini.
Pembahasan ini merupakan bidang being (tentang ada), yang mencakup ontologdan metafisika.
Hal ini sering kali tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan dan seringkali  bersentuhan dengan bidang religi tentang harapan dan kepercayaan.

Sumber:
Hendra Nurtjahjo, Filsafat Demokrasi, Bumi Aksara Jakarta, 2006, h. 6-7.

Difinisi Filsafat


FILSAFAT
Sugeng Rusmiwari
Fisip Unitri Malang

Renungan :
Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Sesungguhnya Allah Swt, mengutus malaikat pada rahim ibu, malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, air mani, wahai Tuhanku, segumpal darah, wahai Tuhanku, segumpal daging”. Jika Dia ingin menyempurnakan ciptaan-Nya malaikat berkata: “Laki-laki atau perempuan ? Sengsara atau bahagia ? Dan bagaimana rizki dan ajalnya ?” Lalu diputuskan ketika ia di rahim ibunya” (Muttafag Alaih/Al Lu’lu’ wal Marjan, 1969, dalam Ensiklopedi tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadist, Widya Cahaya, Jakarta, 2009. H. 338)

Definisi Filsafat.

Dalam bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata, yaitu Philos dan Sophia.
Philos biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang atau cinta.
Sophia diartikan sebagai kebijaksanaan atau kearifan.
Dengan demikian dapat dikatakan “Filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan.
Menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakekat sesuatu.
Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekatnya, fungsinya, cirri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.

Sumber:
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Bumi Aksara,  2008, h. 2