Rabu, 18 Januari 2012

Niat Yang Ikhlas

NIAT YANG IKHLAS

Assalamu’alaikum.
Sudahkan Bapak, Ibu, Saudara, memasang niat untuk mengerjakan Amal Shaleh hari ini ?

Mau hidup sempurna dalam Agama, mari kita niatkan Ikhlas, karena Ikhlas adalah derajad yang tinggi serta sebagai syarat diterimanya amal ibadah kita di sisi Allah, Swt.

Apa Ikhlas itu?
Ikhlas artinya menetapkan tujuan dengan memasang niat kegiatan yang akan dilaksanakan sebelum mengerjakannya, dengan mengharap Ridho Allah semata.
Rasulullah Saw, bersabda (yang artinya saja): “Sesungguhnya setiap amal tergantung kepada niat, dan setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan” (HR. Al- Bukhari dan Al-Muslim).

Untuk itu sangat besar pengaruh Niat terhadap Amal Perbuatan Kita, ‘Abdullah bin al-Mubaarak, ra, mengatakan (yang artinya saja) “Berapa banyak amal besar yang menjadi kecil nilainya karena niat. Dan berapa banyak amal kecil yang menjadi besar nilainya karena niat” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam , dalam Abu Ihsan al-Atsary & Ummu Ihsan Choiriyah, Panduan Amal Sehari Semalam, Pustaka Darul Ilmi, 2010, h. 13).

Sebuah amal yang terlihat oleh kita begitu besar seperti Pergi Haji, atau menyedekahkan  harta dalam jumlah yang besar, bisa saja tidak bernilai di sisi Allah, karena niatnya yang tidak Ikhlas.
Sebaliknya amal yang terlihat oleh kita sepele, misalkan menyingkirkan duri atau batu dari jalan atau sekedar memberikan senyum manis dan salam dengan niat dan ikhlas saat bertemu kolega, teman atau saudara, bisa saja sangat bernilai di sisi Allah.

Ingat Sabda Rasulullah Saw, ini, yang artinya saja “Sesungguhnya aku melihat seseorang lelaki yang mondar mandir di dalam Surga disebabkan sebatang pohon yang ia singkirkan dari tengah jalan yang mengganggu manusia” (HR. Muslim 6837, dari Abu Hurairah).

Untuk itu sudah selayaknya kita niatkan secara ikhlas perbuatan kita sehari-hari, yang Insya’allah akan berpengaruh luar biasa pada diri kita lebih-lebih untuk kepentingan kehidupan di akhirat sebagai tujuan kita nanti. Amien.

Anas ra. meriwayatkan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau bersabda (yang artinya saja) “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, Allah akan memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk dan hina. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, Allah akan jadikan urusannya berantakan, dan ia tidak akan memperoleh dunia kecuali apa-apa yang telah ditetapkan baginya”  (HR. At-Tirmidzi, Ahmadd dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah , 949).  

Abdullah bin Abbas ra, meriwayatkan dari Rasulullah Saw, dari Rabb-Nya “Sesungguhnya Allah menulis setiap kebaikan dan kejelekan, lantas Dia menjelaskan, “Barang siapa berniat melakukan sebuah kebaikan namun ia tidak jadi melaksanakannya maka Allah telah menulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila ia melaksanakan maka Allah akan tulis untuknya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan, atau dilipat gandakan lebih dari itu. Dan barang siapa yang berniat melakukan kejahatan namun ia tidak jadi melakukannya maka Allah tulis untuknya satu kebaikan yang sempurna, tetapi apabila perbuatan itu jadi ia lakukan maka Allah menuliskan untuknya satu dosa kejahatan (HR. Al-Bukhari [6491] dan Muslim [131]).

Dan Allah Swt, berfirman dalam QS, Al-Qiyammah, 14-15, yang artinya saja “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun Dia mengemukakan alasan-alasannya”.

Maka mari kita jangan memandang kecil suatu kebaikan kecil yang bernilai di tengah-tengah manusia, dan mari kita amalkan sabda Rasullah Saw, ini, yang artinya saja “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lannya” (Hadis ini disahihkan oleh Al-Albani dalam ilsilah Shahihah, 426).

Demikian semoga bermanfaat, dan maaf bilamana ada kesalahan, selamat berniat ikhlas dalam berperilaku untuk amal ibadah.
Wassalamu’alaikum.

Hamba Allah.

0 komentar:

Posting Komentar