Rabu, 14 Mei 2014

FENOMENA KOMPETENSI


FENOMENA KOMPETENSI

Kompetensi tidak akan menghasilkan apa-apa apabila dikuasai orang yang tidak memiliki wawasan dan semangat untuk menghasilkan nilai dengan sebaik-baiknya.

Kompetensi akan cepat using apabila orang yang menguasainya tidak memiliki semangat belajar inovatif;
Kompetensi akan menghasilkan dampak negatif yang sangat menrugikan apabila digunakan oleh orang yang tidak memiliki wawasan etikal.

Kompetensi memang dapat menghasilkan kinerja yang direncakan apabila digunakan untuk menjalankan perintah dan petunjuk dengan baik, tetapi tidak akan mampu menghasilkan kinerja yang bermakna apabila orang yang menggunakannya tidak memiliki wawasan untuk mewujudkan suatu cita-cita ideal di masa depan;

Kompetensi yang dimiliki seseorang sangat terbatas manfaatnya apabila orang tersebut tidak mau saling berbagi gagasan, pengetahuan, dan informasi serta berdialog dan berolah intelektual dengan orang lain;

Sebaliknya, orang yang memiliki potensi, tetapi tidak melengkapi potensi itu dengan kompetensi yang sesuai, akan menjadi pekerja yang kurang efektif;

Hal ini terjadi, karena dia perlu belajar menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan terlebih dahulu sebelum dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik;

Apabila pekerja yang memiliki potensi besar tidak memperkaya dengan kompetensi yang sesuai, hasil kerjanya akan memiliki banyak kekurangan;

Disamping itu, energy dan semangatnya dapat cepat berkurang karena kerjanya menjadi kurang efektif;
Jadi pada dasarnya pekerja perlu memiliki kombinasi yang tepat dari potensi dan kompetensi untuk menghasilkan kinerja yang melebihi ekspektasi;

Kombinasi dari potensi insani dengan kompetensi tertentu dinamakan kapabilitas;

Inilah tumpuan utama di dalam proses penciptaan nilai;

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa kompetensi yang diperlukan akan mudah dikuasai oleh orang yang berpotensi tinggi.

Sebaliknya, adalah jauh lebih sukar untuk membuka wawasan serta membangkitkan semangat orang pandai yang arogan, egois, tidak peduli kepada orang lain, bekerja seenaknya, merasa dirinya paling pandai, dan merasa tidak perlu belajar lagi.

Sumber, diadopsi dan diadaptasi dari:
Frans Mardi Hartanto, 2009, Paradigma Baru Manajemen Indonesia, Menciptakan Nilai dengan Bertumpu pada Kebajikan dan Potensi Insani, Penerbit Mizan, dan PT. Integre Quadro, Bandung, hlm. 433- 434.

0 komentar:

Posting Komentar