Selasa, 27 Maret 2012

Materi 5 Et. dan Fil. Kep. Filsafat Emauel Kant



Materi 5

Sugeng Rusmiwari
Fisip Unitri Malang

Renungan:
1.    Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (maksudnya: seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya) dan sekali-kali bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mepersekutukan (Tuhan) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (QS. An-Nahl [16]: 120)
2.    Larangan Bunuh Diri, Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda “Barang siapa yang terjun dari gunung untuk bunuh diri, maka ia akan dijatuhkan di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang makan racun untuk bunuh diri, maka racun itu akan tetap ditangannya ia akan memakannya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya, dan barang siapa yang bunuh diri dengan senjata besi maka besi itu akan tetap ditangannya, ia akan menikam perutnya di neraka Jahannam kekal selama-lamanya” (Muttafaq Alaih / Al Lu’lu’ wal Marjan, 69, dalam  Ensiklopedi Tematis, Ayat Al-Qur’an dan Hadits, Widya Cahaya, 2009, h. 185).

FILSAFAT  EMMANUEL KANT.
Dalam mempelajari filsafat, kita memahami ada tiga pembidangan dalam sistematika pemetaan filsafat.

Sebagaimana pertanyaan mendasar yang dikemukakan oleh filsuf besar Immanuel Kant, antara lain:
1.    Apakah yang dapat saya ketahui ?
Bidang ini mempertanyakan batas-batas pengetahuan yang dapat kita peroleh.
Dimanakah letak batas pengetahuan kita itu.
Pembahasan masalah pengetahuan ini merupakan bidang knowledge, yang di dalamnya mencakup bahasan tentang epistimologi, logika, filsafat ilmu pengetahuan, dan metodologi.
2.    Apa yang harus saya lakukan ?
Bagian ini menyangkut soal aksiologi atau ilmu tentang nilai-nilai.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang dihubungkan dengan nilai-nilai atau penilaian.
Pembahasan bidang ini mencakup etika dan estetika.
3.    Apa yang bisa kita harapkan ?
Hal ini mempertanyakan segala yang ada dan mempertanyakan pula eksistensi manusia dn Tuhan dalam hidup ini.
Pembahasan ini merupakan bidang being (tentang ada), yang mencakup ontologdan metafisika.
Hal ini sering kali tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan dan seringkali  bersentuhan dengan bidang religi tentang harapan dan kepercayaan.

Sumber:
Hendra Nurtjahjo, Filsafat Demokrasi, Bumi Aksara Jakarta, 2006, h. 6-7.

0 komentar:

Posting Komentar