Selasa, 25 Oktober 2011

Hasrat ingin tahu manusia

Bahan Kuliah Met .Pen.

Sugeng Rusmiwari
081 334 995 112

Renungan:
1.    Dari Al-Hasan, ia berkata, Rasulullah Saw, bersabda “Barangsiapa kedatangan kematian dalam kondisi mencari ilmu untuk menghidupkan Islam maka jarak antara dia dengan para Nabi  di surga hanya satu derajat” (HR. Al-Darimy).
2.    Pemimpin adalah pengaruh (John Maxwell,  2002, h.6)

Hasrat ingin tahu manusia
Manusia senantiasa berusaha  mencari kesempurnaan dan kebenaran, dan dengan penelitian banyak hal yang dapat terungkap, menjadikan pengetahuan semakin luas.
Ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan kumpulan pengalaman dan  pengetahuan sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan yang teratur dan kebenarannya sudah teruji (Marzuki,  1977, h.1).

Cara Manusia Mencari Kebenaran
Manusia dalam mencari kebenaran menempuh berbagai cara: 
      1.    Penemuan secara kebetulan.
     Penemuan ini hasilnya tidak dapat dipastikan benar atau tidak benar.

     2.    Trial and error 
      Cara ini dilakukan dengan mencoba-dan mencoba lagi, pada waktu mengadakan         tindakan (trial) tidak ada kesadaran sama sekali untuk berhasil, jadi bersifat untung-untungan. Dan bahkan bias jadi mencoba dan salah (error).

     3.    Otoritas / kewibawaan
  Keyakinan suatu kebenaran datangnya dari orang terkemuka atau memilki kewibawaan.

    4.    Pemecahan secara spekulasi
  Cara ini berangkat dari trial and error, bedanya lebih teratur dan sistematis, namun yang bersangkutan tetap belum yakin bahwa apa yang dilakukan ini benar.

    5.    Dengan berfikir kritis atau berdasarkan pengalaman
   Kemampuan berfikir yang dimiliki oleh manusia, digunakan dengan 2 cara yaitu:

a.  Deduktif, yaitu pengaturan jalan fikiran dengan berpangkal pada premis-premis (kebenaran umum) untuk memperoleh kesimpulan.
b.  Induktif, berpijak dari fakta-fakta dari pengalaman langsung, kemudia menarik kesimpulan secara umum.

Pada kondisi seperti ini, seseorang sudah mulai melakukan penelitian dalam rangka mencari sesuatu / kebenaran.
  
6.    Metode pendidikan ilmiah
Penyelidikan yang dilakukan dengan pendekatan taraf keilmuan, dengan asumsi sebab dan akibat, dan dicarilah penjelasan secara ilmiah, dengan cirri-ciri obyektif, sistematis, jelas dan dikontrol.
Eksistensi penelitian hanyalah alat, yaitu perangkat metodologi yang digunakan untuk pembuktian segala macam dorongan ingin tahu. Karena itu dapat dipastikan semua orang pernah melakukan penelitian (Burhan Bungin,  2001, h.8)

Daftar Pustaka:
  1.    Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press, 2001.
  2. John Maxwell,  Kepemimpinan 101, Inspirasi dan Wawasan bagi Pemimpin, Mitra Media, 2002.
  3.    Marzuki, Metodologi Riset, Penerbit Fakultas Ekonomi, UII Yogyakarta, 1977.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar