Jumat, 21 September 2012

Materi 5, Manusia dan Pengetahuan

LATAR BELAKANG PEMBERIAN MATA KULIAH INI A. MANUSIA DAN ILMU PENGETAHUAN Manusia memiliki tabiat dodorngan yang tinggi untuk ingin tahu dengan akalnya, dan itu adalah dari pemberian yang paling tinggi dari Maha Pencipta kepada manusia, yaitu pikiran. Maka dari itu orang menyebutnya sebagai homo sapiens, makhluk yang berfikir, mahkluk tertinggi bilamana dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain, dan dijadikanlah Khalifah di bumi ini, namun bilamana pemberian itu tidak digunakan maka bisa jadi akan sama dengan hewan dan mungkin lebih rendah lagi. Meskipun manusia itu memiliki pikiran, bukan jaminan bagi manusia memiliki pengetahuan secara otomatis, karena rupanya pikiran manusia hanyalah wadah pengetahuan saja. Kesadaran yang utuh dari seorang ilmuwan dengan ilmu dan iman serta amal shaleh, itulah manusia yang sebenarnya. Sumber: Disarikan dari buku, Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press, Surabaya, 2001, hlm 1-3. B. PENELITIAN DAN ILMU PENGETAHUAN Antara penelitian dan Ilmu Pengetahuan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Penelitian akan berkurang maknanya bilamana tidak digunakan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan akan menjadi mandul dan mandeg bilamana tanpa penelitian. Kerja ilmu bagi manusia seperti semut hitam yang tiada hari tanpa mengumpulkan makanan, namun manusia bukan makanan atau dunia yang dikumpulkan tetapi ILMU (PENGETAHUAN), sehingga manusia tidak terjebak hidup ini hanya di dunia, tetapi ada kehidupan lagi setelah di dunia ini, yaitu di alam kubur dan di akhirat. Jadi tugas manusia sehari-hari adalah untuk mengumpulkan ilmu dan mengamalkannya. Sumber: Disarikan dari buku, Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press, Surabaya, 2001, hlm 3-7. C. PENGERTIAN PENELITIAN Dimulai dari eksistensi penelitian itu adalah sebagai alat atau perangkat metodologi yang digunakan untuk membuktikan segala macam ingin tahu tersebut. Untuk itu sebenarnya setiap orang itu pernah melakukan penelitian. Jadi penelitian itu tidak hanya dilakukan oleh kalangan-kalangan ilmuwan saja, tetapi setiap orang termasuk yang disebut orang awam, dan menentukan adalah ilmiah atau tidak. “Siapapun boleh meneliti bahkan dengan tegas dikatan bahwa sarjana harus dapat meneliti, karena hanya dengan penelitianlah ilmu dapat dikembangkan secara ilmiah” Sumber bacaan: (Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, 2010, h.1.). Metodologi penelitian kita sebut adalah cara ilmiah, karena cara untuk memperoleh kebanaran ilmiah (scientific truth)-nya, bukan karena secara kebetulan, trial and error, dan otoritas kewibawaan yang disebut unscientific. Jadi sadar atau tidak bahwa cara berfikir kritis-rasional adalah cikal bakal gagasan mengenai cara kerja penelitian ilmiah (scientific research) atau disebut dengan metodologi penelitian, yaitu dengan menggunakan analisis deduktif dan induktif serta sistematis. Prancis Bacon, menganjurkan agar semua orang yang menginginkan kebenaran, harus mengobservasi sendiri variable-variabel yang dijadikan alat ukur kebenaran yang diinginkan, contoh: 1. Tabulasi ciri-ciri positif, yaitu variable X selalu berubah pada saat berada dalam kondisi Y, 2. Tabulasi ciri-ciri negative, yaitu variable X tidak berubah kendatipun berada dalam kondisi Y, 3. Tabulasi variable kondisi, yaitu apakah variable X berubah apabila berada pada kondisi yang berubah-ubah. Sumber bacaan: Prancis Bacon, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan iKualitatif, Airlangga University Press, 2001, h 19. D. Menemukan kebenaran melalui penelitian ilmiah John Dewey, langkah-langkah menemukan kebenaran: 1. Adanya suatu kebutuhan (The felt need) 2. Menetapkan masalah (The problem) 3. Menyususn hipotesis (The hyphotesis) 4. Merekam data untuk pembuktian (Collection of data as avidance) 5. Membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya (Concluding belief). 6. Memformulasikan kesimpulan secara umum (General vlue of the conclusion). Sumber: John Dewey, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan iKualitatif, Airlangga University Press, 2001, hlm. 20-22. Soetandyo Wignyosoebroto, bahwa penelitian ilmiah merupakan suatu prosedur di dalam kegiatan ilmiah yang telah ditetapkan secara ketat dan harus dipatuhi dengan penuh disiplin, dalam rangka kerja ilmuwan untuk mengembangkan atau menemukan pengetahuan baru. Jadi penelitian dapat dilakukan diseluruh bidang ilmu. Sumber bacaan: Soetandyo Wignyosoebroto, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan iKualitatif, Airlangga University Press, 2001, h 22. E. SIKAP PENELITI ADALAH SIKAP ILMIAH 1. Obyektif dan factual (obyektif, fakta) 2. Open, fair dan responsible (terbuka terhadap saran, kritik, perbaikan). 3. Curious: wanting to now (sikap ingin tahu terhdap informasi / data) 4. Inventive always (daya cipta, kretif, senang terhadap inovasi). F. KEMAMPUAN PENELITI 1. Think, critically, systematically (berwawasan, kritik, sistematik) 2. Able to create, innovate (kemampuan mencipta, pene,uan baru) 3. Communicate affectivity. 4. Able to identify and formulate problem clearly (mampu mengenal dan merumuskan masalah) 5. View a problem in wider context (peneliti mampu membaca masalah dalam kontek yang luas, karena masalah itu tidak berdiri sendiri). G. JENIS DAN FORMAT PENELITIAN SOSIAL Menurut penggolongan a. Menurut Tujuan 1. Penelitian Ekplorasi 2. Penelitian Pengembangan 3. Penelitian Verifikasi b. Menurut Pendekatan 1. Penelitian Longitudinal 2. Penelitian Cross-sectional 3. Penelitian Kualitatif 4. Penelitian Kuantitatif 5. Penelitian Grounded 6. Penelitian Survey 7. Penelitian Studi Kasus 8. Penelitian Assesment 9. Penelitian Evaluasi 10. Penelitian Aksi c. Menurut Tempat 1. Penelitian Perpustakaan 2. Penelitian Laboratorium 3. Penelitian Kancah d. Menurut Pemakaian 1. Penelitian Murni 2. Penelitian Terapan e. Menurut Bidang Ilmu 1. Penelitian Kepemimpinan 2. Penelitian Kebijakan Publik 3. Penelitian Pelayanan Publik 4. Penelitian Kolitik dan OTODA 5. Penelitian Gender, HAM dan Pembanguan 6. Penelitian Komunikasi 7. Dll. f. Menurut Taraf Penelitian 1. Penelitian Deskriptif 2. Penelitian Eksplanasi g. Menurut Saat Terjadinya Variabel 1. Penelitian Historis 2. Penelitian Ekspos – Fakto 3. Penelitian Eksperimen Penelitian eksplorasi Contoh fiktif, ada kejadian di lingkungan Mahasiswa Administrasi Negara Fisip ini berturut turut terjadi mahasiswa atau dosen selalu dosen I dan mahasiswa yang lain. Pimpinan dibuat bingung dan bahkan hampir stress, pada akhirnya ditelitilah masalah ini untuk mencari akar permasalahannya. Penelitian pengembangan Penelitian ini dilakukan dengan dasar pernah dilakukan baik untuk kepentingan ilmu murni maupun terapan dan dicari pengembangannya untuk memperoleh temuan-temuan baru. Penelitian verifikatif – VERIFIKASI Karakter penelitian ini adalah missal juga penelitian pernah dilakukan, dan pada tahun berikutnya dilakukan lagi, dengan maksud untuk mengkoreksi ulang atas data yang diperoleh tahun sebelumnya. Penelitian longitudinal Misal penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan disiplin mahasiswa dari masuk tahun pertama sampai dengan lulus, maka penelitian ini tentu memerlukan waktu yang lama, biaya yang relative tinggi bahkan bias jadi si peneliti keburu meninggal dunia dan penelitiannya belum selesai, inilah salah satu resiko penelitian ini. Penelitian cross-sectional Penelitian ini adalah hasil kompromi antara “one-shot” method (menebak satu kali terhadap kasus) dan longitudinal method (menebak beberapa kali terhadap kasus yang sama). Penelitian kualitatif Penelitian ini dilakukan dengan sasaran penelitian yang terbatas, tetapi dengan keterbatasan tersebut ingin menggali sebanyak mungkin data atas sasaran penelitian yang akan dipecahkan, sehingga datanya sangat berkualitas dan tidak terbatas, semakin berkualitas data yang dikumpulkan, maka penelitian ini semakin berkualitas. Penelitian kuantitatif Penelitian ini tidak mementingkan kedalaman data, yang penting merekam data sebanyak-banyaknya dari populasi yang luas, mudah dianalisis baik melalui rumus-rumus statistic atau computer. Penelitian grounded Penelitian ini diperkenalkan oleh Glaser dan Straus, 1967, penelitian ini tidak dimulai dengan desain, tetapi langsung kelapangan, semuanya hipotesis senantiasa jatuh bangun ditempa data. Jadi data adalah sumber teori. Teori berdasarkan data sehingga teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Kridibiltas penelitian grounded ditententukan oleh peneliti itu sendiri. Penelitian survey disebut juga penelitian deskriptif murni. Hampir jumbuh dengan penelitian kuantitatif, akan tetapi cirri yang menonjol adalah pengambilan data hanya menggunakan Kuesioner dan hanya berkisar pada : 1. Ciri-ciri demografis masyarakat. 2. Lingkungan social mereka 3. Aktivitas mereka 4. Pe objek penelitian dapat dan sikap mereka. Sumber bacaan: (Moser, CA, 1969, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press, 2001, h. 30). Penelitian Deskriptif memilki 5 (lima) jenis, yaitu : 1. Penelitian deskriptif murni atau survei. 2. Penelitian korelasi 3. Penelitian komparasi 4. Penelitian penelusuran (tracer study) 5. Penelitian evaluasi Sumber bacaan: (Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, 2010, h.3.). Penelitian studi kasus Tujuan penelitian ini adalah untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari objek penelitian, dalam arti objek dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang tertinggi, cara yang digunakan adalah dengan tabulasi silang, menghubungkan sejumlah variable, tidak dilakukan dengan mempertahankan keuntungan masing-masing responden, responden sebagai satu kesatuan dalam suatu analisis. Sumber bacaan: J. Vrendenberg, 1978, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan iKualitatif, Airlangga University Press, 2001, h. 30). Penelitian assessment Yang menonjol dalam penelitian ini adalah keterlibatan peneliti mulai dari awal pelaksanaan sampai dengan selesai, kridibilitas hasil penelitian ditentukan oleh peneliti, namun penelitian ini menggunakan kacamata kuda (menggunakan pedoman sesuai dengan pedoman pelaksanaan [proyek] yang ada). Penelitian evaluasi Penelitian ini peneliti bias terlibat dari awal hingga terakhir, atau dari tengah-tengah proses kegiatan, karena penelitian ini ingin menjawab, apakah kegiatan (proyek, misalkan) dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sumber bacaan: (John W. Best, 1977, dalam Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan iKualitatif, Airlangga University Press, 2001, h. 31). Penelitian aksi Penelitian ini disebut juga Action Research, yang lebih banyak dilakukan penelitian pada hal-hal praktis, dilakukan dari awal kegiatan dan secara terus menerus mencari kelemahan untuk disempurnakan, untuk itu trial and error mendominasi penelitian ini, dengan alas an belum efektif dan efisien, kemudian diperbaiki. Penelitian perpustakaan Sesuai namanya penelitian ini dilakukan di Perpustakaan, hasilnya adalah buku, lay-out, ilustrasi dst. Penelitian laboratorium Sebagaimana namanya penelitian ini dilakukan di Laboratorium, baik oleh Ilmu Eksakta maupun Ilmu Sosial. Penelitian kancah Penelitian ini dilakukan di Laboratorium yang penuh dengan seribu satu masalah yang tak kunjung pangkal habisnya, semakin komplek kancah semakin banyak pula permasalahan yang dapat dipelajari darinya, terutama dalam Ilmu Sosial dan penelitian ini berhubungan dengan masyarakat atau perilaku manusia. Penelitian murni (pure) Penelitian ini dilakukan semata-mata untuk kepentingan pengembangan Ilmu, bukan untuk untuk diterapkan pada masyarakat untuk jangka pendek namun untuk jangka panjang Ilmu tetap harus bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian terapan (applied) Kebalikan dengan yang tersebut di atas, penelitian ini digunakan langsung untuk aplikasi atau diterapkan pada masyarakat, contoh penelitian advokasi kepemimpinan, penelitian kerjasama, dll. Bahan Bacaan. 1. Burhan Bungin, Metode Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif, Airlangga University Press, 2001. 2. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka Cipta, 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar