Selasa, 12 Juni 2012

Materi 50, EFK, Perspektif Kepemimpinan Etis


50  PERSPEKTIF BERBEDA MENGENAI KEPEMIMPINAN ETIS

Banyak pemikiran saat ini mengenai kepemimpinan etis yang telah dipengaruhi oleh sarjana baru yang memandang kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas.

James Mc Gregor Burns, 1978, memformulasikan sebuah teori  mengenai kepemimpinan yang mengubahkan dari  penelitian deskriptif mengenai para pemimpin politik. 

Bagi Burn, peran atau fungsi kepemimpinan utama adalah meningkatkan kesadaran mengenai masalah etis dan membantu orang menyelesaikan nilai-nilai yang berkonflik.

Selanjutnya ia menjelaskan kepemimpinan sebagai sebuah proses dimana “para pemimpin dan para pengikut saling meninggikan yang lainnya ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.

Para pemimpin berusaha untuk meninggikan kesadaran dari para pengikut dengan menarik idealisme dan nilai moral seperti kebebasan, keadilan, kesetaraan, kedamaian, humanitarisme, bukan emosi dasar seperti ketakutan, kerakusan, kecemburuan atau kebencian.

Para pengikut ditinggikan dari “diri mereka sehari-hari” menjadi “diri mereka yang lebih baik”.

Kepemiminan seperti ini dapat mempengaruhi rekan sejawat dan atasan dan juga bawahan.
Hal ini dapat terjadi dalam tindakan keseharian orang biasa, tetapi bersifat tidak biasa atau umum.

Burns, menjelaskan kepemimpinan sebagai sebuah proses, bukan sekumpulan tindakan berlainan.

Sebuah proses di mana para pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi saat berhubungan berevolusi seiring waktu.

Kepemimpinan yang mengubahkan adalah sebuah proses pengaruh antar-individual, tetapi juga sebuah proses memobilisasi kekuasaan untuk mengubah system social dan institusi reformasi.

Pemimpin berusaha untuk membentuk, memperlihatkan dan memeditasi konflik antara kelompok orang.

Konflik ini dapat berguna untuk memobilisasi dan menyalurkan energy untuk mencapai sasaran ideologis bersama.

Jadi kepemimpinan yang mengubahkan tidak hanya melibatkan peningkatan moral dari masing-masing pengikut, tetapi juga upaya kolektif untuk mencapai reformasi social.

Dalam dalam prosesnya, baik pemimpin maupun pengikut akan berubah. 

Mereka akan mulai mempertimbangkan bukan hanya apa yang baik untuk diri mereka sendiri, tetapi juga apa yang akan menguntungkan lagi organisasi, komunitas dan bangsa mereka.

Sumber:
Gary Yukl,  State University of New York at Albany, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Edisi Kelima, PT Indeks, Jakarta, 2010, h. 481-482.
  

               

0 komentar:

Posting Komentar